Ekonomi
Petani Sigi Hasilkan Cuan Dari Jualan Kopi Berkualitas
Jakarta, Bindo.id – Seorang petani yang berasal dari Sigi, Sulawesi Tengah, membagikan cerita perjalanannya mengelola kebun.
Dia mengaku awalnya tak minat, namun saat ini justru sukses berkolaborasi bersama prosesor.
Proses pembuatan kopi tak hanya sekadar dari mesin jatuh ke dalam cangkir. Terdapat perjalanan panjang dari bibit pohon kopi sampai jadi seduhan kopi menyegarkan yang dapat dinikmati setiap hari.
Tantangan dalam membuat kopi juga tak hanya pada barista, jauh sebelum itu ada jerih payah petani di kebun kopi yang harus menanam serta merawat pohonnya.
Algius seorang petani kopi dari Sigi, Sulawesi Tengah, dilansir dari detikcom, Sabtu (26/6/2026).
Di acara Sewelas Asih Toko Kopi TUKU di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, Algius mengenalkan kopi dari kebunnya di Sigi.
Ia didampingi prosesornya bernama Gampiri. Algius memperkenalkan hasil dari kebun kopi pribadinya di atas tanah seluas 1 hektar.
Di desa Lewara, dia mengatakan punya luas kebun kopi yang totalnya sekitar 25 hektar.
Semua kebun itu dimiliki serta dikelola masyarakat desa dengan bagiannya masing-masing. Algius mengatakan ia hanya petani kopi yang baru mulai di industri ini.
“Dulu orangtua sudah tanam kopi, tetapi saya tidak minat. Karena harga kopi saat itu masih murah. Biji hijaunya saja bisa dibeli hanya Rp10 ribu – Rp20 ribu per kilogram. Sekarang saya mulai tertarik karena kopi sudah mulai dihargai, bisa sampai Rp50 ribu – Rp70 ribu per kilogram (biji hijau),” tuturnya.
Algius mengaku masih menjual kopi-kopinya ke tengkulak, sebelum mengenal prosesor.
Hadirnya tengkulak ini juga jadi salah satu masalah yang sering ia dihadapi.
“Kalau lagi panen mereka (tengkulak) banyak yang datang, tetapi kalau panen lagi sedikit mereka kabur. Jadi bingung mau jual ke mana. Sekarang saya fokus ke Gampiri saja (prosesor), jual kopinya jadi lebih jelas,” ujar Algius.
Tidak hanya membeli kopi dari petani, prosesor ini juga mengedukasi para petani. Algius mengakui peran edukasi dari prosesor yang membantunya untuk mengolah biji kopi pasca panen.
Saat ini dia sudah dapat melakukan proses pasca panen dengan fermentasi natural, honey, maupun full washed.
Dampak bencana alam yang saat itu sempat menghantam Sigi juga diceritakannya.
Posisi kebun kopi miliknya ada di lereng bukit. Bencana gempa besar yang terjadi, sebagian besar kebun kopi longsor serta mengalami penurunan elevasi. Faktor ini juga berpengaruh pada hasil panen kopi. Sebab buah kopi sensitif tekanan udara dan ketinggian.
“Saat gempa besar 108 (sekitar 7,4 M) itu kebun terdampak sangat besar. Banyak kebun yang longsor. Banyak orang-orang (petani) yang akhirnya pindah (lahan). Sekarang sudah mulai pulih lagi, sudah mulai banyak (produksi kopi di Sigi),” ujarnya.
Ikuti berita terkini dari BINDO di
YouTube, dan Dailymotion
