Info Regional
Riau Gunakan Minyak Sawit Untuk Pembuatan Batik, Motifnya Lebih Cerah
Pekanbaru, Bindo.id – Provinsi Riau dikenal menjadi salah satu penghasil batik dengan berbagai macam motif khas Melayu.
Seiring perkembangan zaman, saat ini pembuatan motif dasar batik ada inovasi baru, yaitu pemakaian malam atau lilin dari olahan minyak kelapa sawit.
Ada 50 pembatik yang berasal dari berbagai daerah di Riau mengikuti pelatihan membatik dengan menggunakan malam sawit.
Mereka belajar mulai dari proses pembuatan sampai praktik langsung. Kegiatan diprakarsai Elaeis Media Group ini diadakan selama 2 hari di Gedung Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Pekanbaru.
Bagi para peserta,
Ini sebagai pengalaman baru untuk para peserta. Meskipun sudah lama berkecimpung di dunia batik, mereka belum pernah mencoba memakai malam dari bahan sawit.
Salah satu peserta yang berasal dari Kabupaten Pelalawan, Yusmaini (48), tampak lincah memakai canting untuk mengukir motif batik.
Dengan waktu sekitar 20 menit, kain putih polos tersebut berubah jadi batik bermotif.
“Ini motif Riak Sungai Jantan,” tutur Yusmaini, Rabu (22/4/2026).
Perempuan yang sering disapa Ibu Yus ini mengaku awalnya ragu malam sawit dapat dipakai membatik.
“Awalnya saya tidak yakin, rupanya memang bisa. Bahkan malam sawit rasanya lebih ringan dan lembut di kain. Warnanya lebih cerah. Biasanya saya pakai lilin biasa. Fungsinya malam ini untuk memblok warna dalam proses membuat batik,” ujar Yusmaini.
Setelah pelatihan, dirknya berencana untuk mengembangkan pemakaian malam sawit di usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) batiknya di Pelalawan.
Keunggulan Malam Sawit
Owner Elaeis Media Group, Abdul Aziz, menuturkan pengembangan malam sawit sudah melewati uji coba.
“Keunggulan malam sawit, kalau motif batik ditekuk tidak patah, warnanya juga lebih cerah,” tutur Aziz.
Asap yang dihasilkan ketika proses pembuatan tak terlalu menyengat sehingga lebih nyaman untuk para pengrajin.
Kata Aziz, pemanfaatan sawit sebagai bahan dasar batik juga ada dukungan ketersediaan bahan baku di Riau yang memiliki luas perkebunan kelapa sawit sekitar 4,02 juta hektar.
“Dengan jumlah penduduk Riau yang hampir 7 juta jiwa, ini menjadi pasar batik yang bagus,” tutur Aziz.
Dorong Mengembangkan UMKM
Para pengrajin batik di 12 kabupaten dan kota di Riau diajak Aziz untuk mengembangkan batik malam sawit.
Dia mengatakan inovasi ini memperoleh dukungan berbagai pihak, termasuk Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
“Peserta ini pelaku UMKM batik, tapi belum pernah menggunakan malam sawit. Jadi inovasi baru ini kita kembangkan dan support,” ujar Aziz.
Motif modern tanpa meninggalkan ciri khas batik Indonesia akan dikembangkan di batik ini.
Terus Berkembang Produk Turunan Sawit
Kata Aziz, produk turunan kelapa sawit tak hanya terbatas pada minyak mentah (CPO), namun juga berbagai produk lainnya misalnya skincare, cokelat, dodol, selai, maupun kerupuk.
“Bulan depan kita akan praktik pengembangan pembuatan bolu sawit di Jambi. Sebelumnya sudah dilakukan di Surabaya, Yogyakarta, dan Semarang,” tuturnya.
Kepala Dinas Perkebunan Riau, Supriadi, memberikan apresiasi terhadap inovasi batik malam sawit tersebut.
Ia mengatakan saat ini ada sekitar 179 sampai 200 produk turunan sawit yang dapat dikembangkan.
“Produk turunan sawit sangat banyak, mulai dari kecantikan hingga makanan. Sekarang ada malam sawit untuk batik. Ini langkah besar untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Kita harap inovasi ini terus ditingkatkan,” ujar Supriadi.
Ikuti berita terkini dari BINDO di
YouTube, dan Dailymotion
