Info Regional
Akses Jalan Terputus Dan Puluhan Warga Mengungsi Imbas Banjir Di Kalibanteng Semarang
Semarang, Bindo.id – Banjir yang melanda permukiman dekat Sungai Silandak, Jalan Jembawan 1, Kalibanteng Kulon, Semarang Barat sempat mencapai setinggi leher orang dewasa.
Akses Jalan Jembawan 1 juga terputus sebab amblas terbawa arus. Peristiwa ini menyebabkan puluhan warga terpaksa mengungsi.
Pada Sabtu (16/5) pukul 11.30 WIB, beberapa warga terlihat bekerja bakti untuk membersihkan lumpur yang masuk ke rumah setelah terjadi banjir.
DiPos Kamling RT 6 RW 1 juga didirikan dapur umum.
Warga Jembawan RT 6 RW 1, Dwi Susilo (49) menututkan kemarin malam terjadi banjir besar dan tanggul Sungai Silandak jebol. Peristiwa tersebut disebut berlangsung cepat.
“Habis Magrib itu air cepat naik. Sehingga kita mau antisipasi itu sudah terlambat langsung air begitu cepat naik sampai segini,” ujar Dwi sambil membuat garis dengan tangan pada lehernya untuk memperlihatkan kondisi banjir, Sabtu (16/5/2026).
Kata Dwi, saat terjadi banjir hanya keluarganya yang dapat dievakuasi. Sedangkan, barang-barangnya hilang terbawa banjir.
“Ya, alhamdulillah langsung evakuasi keluarga. Sepatu hilang, terus baju kemarin nyuci terus hilang. Macam-macam lah. Mesin cuci sampai sini (terseret ke depan rumah) tadi malam. Itu kursi sampai sana,” tutur Dwi.
Dwi juga mengeluh tentang sulitnya akses keluar masuk dari rumahnya, karena jalan yang ada di depan rumahnya saat ini hilang tak bersisa.
Ia beserta keluarganya saat ini mengungsi di Masjid Al Hikmah yang ada di dekat rumahnya.
“Kesulitannya ya sulit (akses jalannya),” ujar Dwi.
Dwi lahir tahun 1977 dan sudah tinggal di Jembawan sejak lahir. Ia menceritakan talud Sungai Silandak tersebut usianya sangat tua.
Talud yang sempat ambles tersebut saat ini semakin remuk sebab diguyur hujan deras.
“Kemungkinan tanggul ini 82 (1982, red) dibangun. Saya masih kecil ya dulu. Belum (pernah ada perbaikan). Baru kali ini (amblas), mungkin sudah saking lamanya,” ujar Dwi.
Harapan Dwi, talud dan jalan di kampungnya akan segera diperbaiki. Dirinya khawatir imbas tanggul ambles dapat merembet sampai ke rumahnya.
“Harapannya segera dibenahi aja. Takutnya (melebar) soale punya saya dampak utama,” ujar Dwi.
25 Warga Mengungsi di Masjid Terdekat
Di tempat yang sama, Lurah Kalibanteng Kulon Parjono menuturkan imbas peristiwa ini setidaknya ada 25 warga yang harus mengungsi di Masjid Al Hikmah.
“Hasil pendataan tadi malam ada 6 KK 25 warga. Terus kemudian penanganan pengungsi tadi malam sudah sementara ngungsi di Masjid Al Hikmah,” ujar Parjono.
Jalan yang ambles bersamaan dengan talut ini juga jadi satu-satunya akses 25 warga itu. Jalan ini juga jadi salah satu akses utama warga dari beberapa RT.
“Saat ini (warga yang terdampak langsung) lewat di samping Masjid Al-Hikmah ini, tidak bisa dilalui kendaraan, hanya jalan kaki. Di sini merupakan salah satu akses utama untuk warga, utamanya di RT 3, RT 6, RT 7,” ujar Parjono.
Parjono mengatakan saat ini warga sedang berupaya untuk menyelamatkan harta benda mereka pascabanjir. Dapur umum untuk warga yang terkena dampak juga sudah dipersiapkan.
“Ini berusaha untuk bisa menyelamatkan barang yang mungkin masih bisa dipakai seperti itu. Karena tadi malam tidak sempat menyelamatkan barang apapun,” ujar Parjono.
“Tadi malam untuk bantuan-bantuan logistik dan lain sebagainya, dapur umum sudah disiapkan dari kecamatan, kemudian dari BPBD, kemudian ada dari Dinas Sosial dan PMI,” lanjutnya.
Ia mengatakan sebelum tanggul ambles semakin parah, sempat ada upaya penanganan dengan curah aspal.
Akan tetapi saat aspal belum menyatu, hujan deras serta debit air yang tinggi justru menghancurkan semuanya.
“Kemarin sebenarnya sudah ada penanganan yaitu dikasih curah aspal. Harapannya nanti kan bisa menyatukan aspal yang retak, tapi ternyata begitu sore hujan ini yang awalnya sudah dikasih curah aspal ternyata tidak bisa menyatukan aspal yang retak tadi dan semakin ambles,” ujar Parjono.
Saat ini Parjono sedang menunggu penanganan dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Dirinya berharap talut dan jalan dapat segera diperbaiki.
“Sampai hari ini kami juga masih menunggu penanganan dari BBWS agar nantinya tidak melebar dan merembet ke kanan kirinya. Harapan kami yang pertama talud diperbaiki lebih kuat lagi, terus kemudian (jalan) ini bisa dikembalikan, difokuskan sebagai jalan seperti yang dulu,” tutur Parjono.
3 Kecamatan di Semarang Terkena Dampak Banjir
Dari data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang pada Sabtu (16/5) per pukul 06.00 WIB, terdata ada 3 kecamatan yang terkena dampak luapan air sungai. Ketiga kecamatan tersebut yaitu Ngaliyan, Semarang Barat, serta Tugu.
Di Kecamatan Ngaliyan, terdapat 146 KK di Kelurahan Purwoyoso yang terkena dampak banjir. Sedangkan di Kelurahan Bambankerep, ada 16 KK atau 49 jiwa yang terkena imbas banjir.
Selanjutnya di Kecamatan Semarang Barat, ada 22 KK atau 60 jiwa di Kalibanteng Kulon yang terkena dampak banjir.
Selanjutnya di Kembangarum, ada 43 rumah dengan rincian 59 KK atau 191 jiwa yang terkena dampak banjir.
Di wilayah Krapyak RT 1, 2, dan 3 RW 9 juga sempat ada genangan air.
Kelurahan Mangkang Kulon Kecamatan Tugu, banjir terjadi di RW 1, 3 4, dan 5. Total 313 KK atau 1252 jiwa. Di wilayah tersebut terdampak banjir tadi malam.
Dilaporkan ada 2 korban banjir di peristiwa ini. Satu orang tewas bernama Maryam (70) di Kalibanteng Kulon sebab hanyut. Ada satu orang bernama Wahyu Adi Kristanto (41) di Kembangarum yang mengalami luka ringan patah tulang tangan sebab terpeleset.
Ikuti berita terkini dari BINDO di
YouTube, dan Dailymotion
