Transportasi
Gunakan Pendekatan Penta Helix, Jasa Raharja Perkuat Sistem Transportasi
Jakarta, Bindo.id – Pendekatan keselamatan transportasi dianggap perlu bergeser dari yang awalnya responsif jadi preventif berbasis data untuk menekan angka kecelakaan maupun fatalitas korban.
Direktur Utama (Dirut) Jasa Raharja, Muhammad Awaluddin menyampaikan hal itu saat ‘Diskusi Keselamatan Transportasi yang mempertemukan unsur Penta Helix’ di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Forum tersebut sebagai ruang kolaborasi untuk memperkuat upaya pencegahan kecelakaan lalu lintas secara terpadu di wilayah Sulawesi Selatan.
Pada paparannya, Awaluddin menuturkan berdasarkan data Triwulan I 2026, nilai santunan di Sulsel mengalami peningkatan sebanyak 11,14% jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya.
Jumlah kejadian kecelakaan lalu lintas juga mengalami peningkatan sekitar 8% jadi lebih dari 2.000 kasus.
Data IRSMS Korlantas Polri secara nasional mencatat lebih dari 151.000 peristiwa kecelakaan dengan lebih dari 217.000 korban per tahun, dengan tren yang terus mengalami peningkatan pada setiap tahunnya.
Kata Awaluddin, peran Jasa Raharja tak hanya terbatas pada penyaluran santunan, namun juga sebagai bagian dari ekosistem pencegahan kecelakaan.
Upaya itu dilakukan lewat pemetaan titik rawan kecelakaan (blackspot), edukasi tersegmentasi, dan peningkatan kapasitas respons pertama yang ada di lapangan.
“Kecelakaan bukan persoalan kehilangan nyawa semata. Sebagian besar yang mengalami kecelakaan adalah usia produktif dan kepala keluarga, sehingga ada perubahan tatanan sosial-ekonomi yang berdampak pada keluarga yang ditinggalkan,” tutur Awaluddin, pada keterangan tertulis, Selasa (14/4/2026).
“Pendekatan saat ini masih sangat dominan pada penanganan, sementara pola kecelakaan terus berulang. Kami ingin mendorong pergeseran dari responsif menjadi preventif melalui kerja sistem yang terintegrasi,” lanjutnya.
Dirlantas Polda Sulsel Kombes Pol, Pria Budi menuturkan meskipun jumlah kecelakaan mengalami peningkatan sekitar 8%, angka fatalitas korban meninggal dunia berhasil ditekan sebanyak 24%, dari 234 orang di Triwulan I 2025 jadi 179 orang di periode yang sama tahun 2026.
Dari data itu, ada 74% kecelakaan merupakan kecelakaan tunggal, dengan 78% kendaraan yang terlibat yakni sepeda motor.
Terjadi kecelakaan paling banyak pada pukul 15.00-18.00 WITA, umumnya saat kondisi cuaca cerah serta jalan yang baik.
Polda Sulsel juga sudah memetakan titik rawan kecelakaan di beberapa wilayah, dengan konsentrasi tertinggi di Makassar, Maros, Barru, serta Pangkep.
Penegakan hukum didukung sebanyak 89 unit ETLE yang terdiri dari 14 unit statis serta 74 unit handheld.
“Banyak nyawa yang hilang bukan karena kecelakaan itu sendiri, tetapi karena terlambatnya penanganan awal. Keselamatan tidak hanya berhenti pada pencegahan, tetapi juga pada kualitas penanganan pada saat dan sesaat setelah kecelakaan terjadi,” ujar Kombes Pol Pria.
“Semakin cepat penanganan dalam golden period, semakin besar peluang korban untuk bertahan hidup,” lanjutnya.
Forum itu juga menghasilkan beberapa kesepakatan, seperti penguatan edukasi interaktif keselamatan berkendara di titik rawan kecelakaan, perluasan program E-PELANTAS ke semua kabupaten/kota di Sulsel, dan integrasi SIM-RS dengan platform JR Care untuk mempercepat penerbitan Guarantee Letter (GL) bagi korban kecelakaan.
Diusulkan juga pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) untuk komunitas pengemudi sebagai first responder, demi menekan fatalitas korban di masa penanganan awal.
Pada sisi infrastruktur, Dinas Bina Marga Provinsi Sulsel merencanakan pemeliharaan serta peningkatan jalan sepanjang 1.000 km di periode 2025-2027.
Dinas Perhubungan Provinsi Sulsel berupaya untuk menambah koridor angkutan umum dari 2 jadi 3 koridor.
Menurut Jasa Raharja, forum kolaboratif seperti ini penting dalam membangun peta jalan keselamatan transportasi berbasis data maupun kondisi lokal.
Permasalahan keselamatan lalu lintas dianggap tak bisa diselesaikan secara parsial, namun perlu sinergi dan upaya bersama dari semua pemangku kepentingan.
Diskusi yang diselenggarakan di Kantor Wilayah Jasa Raharja Sulsel itu menghadirkan beberapa narasumber, yaitu Dirlantas Polda Sulsel Kombes Pol Dr Pria Budi, beserta perwakilan dari Dinas Pendidikan, Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan, BPTD Kelas II Prov Sulsel, BBPJN Sulsel, Dinas Bina Marga Provinsi Sulsel, DPD Organda Sulsel, PT Makassar Metro Network, RSUP Wahidin Sudirohusodo, RSUP Makassar, komunitas ojek online.
Akademisi dari Universitas Hasanuddin, Universitas Bosowa, Universitas Fajar dan Universitas Handayani juga turut hadir dalam diskusi tersebut.
Ikuti berita terkini dari BINDO di
YouTube, dan Dailymotion
