Seni dan Budaya
Sport Tourism 2026 Digelar di Pantai Kebumen, Angkat Keindahan Alam dan Kearifan Lokal
Kebumen, Bindo.id – Pembukaan Kebumen Geopark Trail Run (KGTR) 2026 digelar semarak. Ada pementasan tari kolosal The Tales of Karangbolong di kawasan Pantai Karangbolong pada Sabtu (27/6/2026) malam.
Pertunjukan ini melibatkan ratusan seniman dan menjadi suguhan pembuka sebelum rangkaian ajang lari internasional yang diikuti oleh peserta dari berbagai daerah.
Tidak ketinggalan penonton dari mancanegara hadir di pementasan ini.
Tari kolosal ini mengusung legenda Goa Karangbolong dan sarang burung walet yang sudah lama jadi bagian dari identitas budaya Kabupaten Kebumen.
Dengan perpaduan tari, musik, teater, tata cahaya, serta visual, para penonton diajak menyelami kisah kepahlawanan Pangeran Surti dalam usaha untuk menyelamatkan sang permaisuri dari kutukan.
Bupati Kebumen, Lilis Nuryani, menuturkan pementasan itu sebagai wujud komitmen pemerintah daerah dalam memadukan olahraga, pariwisata, serta budaya sebagai kekuatan utama pembangunan daerah.
Ia mengatakan KGTR tak hanya jadi ajang olahraga, namun juga sebagai sarana untuk mengenalkan kekayaan budaya dan potensi geopark Kebumen ke masyarakat nasional ataupun internasional.
“Melalui pertunjukan ini kami ingin setiap tamu yang datang tidak hanya menikmati lintasan trail run, tetapi juga membawa pulang cerita tentang budaya, sejarah, dan keindahan Kebumen,” ujar Bupati setelah pementasan pada Sabtu (27/6/2026) malam.
Dia mengatakan Karangbolong tak hanya sekadar destinasi wisata pantai, namun punya warisan budaya, legenda, dan nilai sejarah yang layak terus dipromosikan.
Penyelenggaraan KGTR sengaja dikemas dengan berbagai atraksi budaya supaya memberi pengalaman yang lebih lengkap untuk para peserta maupun wisatawan.
Penggagas sekaligus konseptor The Tales of Karangbolong, dr. Faiz Alauddien Reza Mardhika, mengatakan karya tersebut adalah pengembangan dari tari kolosal Swardana Kabumian yang sebelumnya sukses dipentaskan di Kebumen Fest 2025.
Kata Reza, karya itu lahir dari keinginan menghadirkan pertunjukan yang tak hanya menghibur, namun juga memperkuat identitas budaya Kebumen lewat cerita rakyat yang dekat dengan masyarakat.
“Kami ingin legenda Karangbolong dapat dikenal lebih luas melalui bahasa pertunjukan yang modern, tanpa meninggalkan akar budaya dan nilai tradisi yang dimiliki Kebumen,” tuturnya.
Dia mengatakan lakon The Tales of Karangbolong juga sudah resmi terdaftar sebagai karya Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) sehingga punya perlindungan hukum sebagai karya budaya asli dari Kebumen.
Di alur cerita, dikisahkan Pangeran Surti berusaha untuk mencari obat agar bisa menyembuhkan sang permaisuri yang terkena kutukan.
Perjalanan membawanya menuju ke pesisir selatan untuk mencari sarang burung walet yang dipercaya punya khasiat.
Di tengah pengembaraan, Pangeran Surti memperoleh bantuan dari Lutung Kasarung sampai akhirnya bertemu dengan Nyi Roro Kidul yang memberi jalan keluar atas musibah tersebut.
Kisah itu sekaligus menyampaikan pesan penting tentang pelestarian alam dan habitat burung walet sebagai kekayaan yang harus dijaga bersama.
Pementasan ini digelar megah dengan dukungan tata artistik, koreografi kolosal, serta iringan musik yang memadukan unsur tradisional dan modern.
Ribuan penonton antusias memadati area pertunjukan menunjukkan seni budaya tetap jadi daya tarik kuat di setiap penyelenggaraan event besar di Kebumen.
“Kita juga mengundang mahasiswa dari UGM yang berasal dari berbagai negara untuk menyaksikan pertunjukan ini,” ujarnya.
Pembukaan acara dikemas dengan tari kolosal The Tales of Karangbolong.
Harapan Pemerintah Kabupaten Kebumen KGTR 2026 semakin memperkuat citra daerah sebagai destinasi sport tourism berbasis geopark yang kaya akan budaya, serta mendorong promosi pariwisata maupun ekonomi kreatif di tingkat nasional dan internasional.
“Ada sekitar 100 an penari yang terlibat dalam pementasan ini, mereka semua siswa-siswi Kabupaten Kebumen,” pungkasnya.
Ikuti berita terkini dari BINDO di
YouTube, dan Dailymotion
