Teknologi
Mesin Pesawat Hipersonik Berhasil Diuji Jepang, Tokyo-AS Hanya 2 Jam
Tokyo, Bindo.id – Tim peneliti yang berasal dari Jepang telah berhasil menguji pembakaran pertama untuk mesin jet yang dirancang untuk pesawat hipersonik berkecepatan Mach 5.
Uji coba berlangsung pada April itu jadi tonggak sejarah baru untuk teknologi penerbangan negara itu.
Tim terdiri dari para peneliti Universitas Waseda di Tokyo dan Badan Eksplorasi Dirgantara Jepang (JAXA) ini menargetkan teknologi itu bisa dipakai secara praktis pada dekade 2040-an.
Jika terealisasi, waktu perjalanan udara antara Jepang dan Amerika Serikat (AS) dapat dipangkas jadi hanya dua jam.
Sebagai informasi, saat ini penerbangan langsung dari Jepang ke AS perlu waktu antara 10 sampai 15 jam, tergantung kota keberangkatan dan tujuan. Namun, jalan menuju komersialisasi pesawat masa depan ini masih panjang, seperti dikutip dari The Mainichi, Senin (11/5/2026).
Anggota tim peneliti sekaligus Profesor di Universitas Waseda, Tetsuya Sato, menuturkan pencapaian ini barulah langkah awal.
“Hasil ini masih merupakan langkah pertama. Impian kami adalah menghubungkannya dengan demonstrasi penerbangan,” tutur Sato.
Hal serupa juga diungkapkan Hideyuki Taguchi, profesor dari Tokyo University of Science yang terlibat di penelitian bersama ini.
Taguchi juga menjabat eksekutif senior penelitian dan pengembangan di JAXA sampai tahun fiskal 2025.
Dirinya mengatakan lini masa pengembangan pesawat hipersonik jauh lebih kompleks jika dibandingkan dengan pesawat biasa.
“Mengembangkan pesawat konvensional biasanya membutuhkan waktu sekitar 10 tahun. Karena pengembangan pesawat penumpang hipersonik memerlukan dua tahap demonstrasi, pesawat eksperimental diikuti oleh pesawat penumpang. Kami berharap pengembangan ini dapat selesai dalam waktu sekitar 20 tahun,” ujar Taguchi.
Pada pengujian terbaru yang diadakan di Pusat Antariksa Kakuda yang dimiliki JAXA di Prefektur Miyagi.
Tim menyimulasikan kondisi yang setara dengan terbang di kecepatan Mach 5 pada ketinggian 25 kilometer.
Di ketinggian itu, tekanan atmosfernya hanya seperseratus dari tekanan di permukaan laut.
Uji coba dilakukan memakai pesawat eksperimental sepanjang 2 meter, atau sekitar seperseratus lima puluh dari ukuran pesawat penumpang yang telah direncanakan.
Hasilnya, tim memastikan pengoperasian mesin dan ketahanan panasnya berfungsi hampir persis seperti yang telah dirancang.
Target selanjutnya dari proyek yang sudah dirancang sejak tahun 2013 yakni melakukan demonstrasi penerbangan yang sesungguhnya.
Sebagai gambaran, pesawat hipersonik dengan kecepatan Mach 5 ini, nantinya akan terbang pada ketinggian 25 kilometer, lebih dari 2 kali lipat ketinggian pesawat komersial biasa.
Kecepatannya sekitar 5.400 kilometer per jam, atau kira-kira 6 kali lebih cepat dari pesawat normal.
Jika nantinya dilengkapi mesin roket, pesawat ini bisa menjangkau luar angkasa sampai ketinggian 100 kilometer.
Menariknya, karena bisa lepas landas serta mendarat secara horizontal, pesawat tetap bisa memakai landasan pacu bandara biasa.
Sebelumnya, dunia pernah mengenal tentang pesawat penumpang supersonik Concorde yang beroperasi sampai tahun 2003.
Saat itu kecepatan maksimal Concorde hanya mentok di kisaran Mach 2.
Meskipun menawarkan kecepatan luar biasa, namun pengembangan pesawat Mach 5 ini menghadapi tantangan teknis yang masif.
Gelombang kejut (shock waves) yang terbentuk di sekitar badan pesawat menuntut mesin agar bisa tetap beroperasi secara stabil di tengah aliran udara yang kompleks.
Kompresi udara yang ekstrem menyebabkan beberapa bagian pesawat harus bisa menahan suhu panas ekstrem hingga 1.000 derajat celsius.
Ikuti berita terkini dari BINDO di
YouTube, dan Dailymotion
