Teknologi
Mitigasi Banjir Rob di Pantura Jateng Dengan Teknologi AI-IoT
Jakarta, Bindo.id – Demi membantu mitigasi banjir pasang surut di kawasan pantai utara Jawa Tengah maka dikembangkan Sistem pemantauan banjir rob berbasis kecerdasan buatan (AI) dan internet of things (IoT).
Teknologi ini jadi bagian dari sistem peringatan dini yang bisa diakses masyarakat lewat aplikasi ponsel bernama Tide-Eye.
Aplikasi Tide-Eye menggunakan radar dan drone berkamera sebagai perangkat utama untuk melakukan pemantauan perubahan permukaan air laut di kawasan permukiman pesisir.
Selanjutnya, data ketinggian air yang dikumpulkan diolah memakai sistem AI jadi informasi peringatan dini.
Salah satu peneliti yang terlibat pada pengembangan sistem itu, Miftadi Sudjai dari Universitas Telkom.
Miftadi menyebutkan teknologi ini dirancang untuk membantu masyarakat agar lebih siap menghadapi banjir rob serta menekan potensi kerugian.
“Kami mendesain sistem berbasis jaringan sensor IoT dan AI agar menghasilkan data yang akurat. Harapannya, ini bisa mereduksi kerugian akibat banjir rob dan menjadi sarana edukasi agar masyarakat lebih tangguh serta siap menghadapi dampaknya,” tutur Miftadi pada “Knowledge and Innovation Exchange – Jakarta Summit Indicative Agenda” di Jakarta, Selasa (28/4/2026).
Digunakan di Wilayah Rawan Rob
Pengembangan sistem dilakukan di beberapa wilayah pesisir yang sering terkena dampak rob, seperti Tambak Lorok di Semarang, kawasan muara Sungai Kalibabon, Pekalongan, serta Demak.
Terlebih dahulu tim peneliti mengadakan survei lapangan untuk memetakan permasalahan yang dihadapi warga, termasuk kebutuhan informasi ketika banjir rob datang.
Kata Miftadi, pendekatan berbasis data dianggap penting sebab banjir rob di pesisir utara Jawa Tengah terus berulang, memengaruhi aktivitas ekonomi serta kehidupan sehari-hari masyarakat.
Dia mengatakan masyarakat terkena dampak dilibatkan sejak awal pada proses pengembangan aplikasi, khususnya kelompok perempuan.
“Mungkin alasannya karena ibu-ibu pada siang hari lebih banyak berada di rumah, sehingga kami bisa berkonsultasi langsung. Kami berdiskusi mengenai berbagai persoalan yang mereka hadapi saat banjir rob,” ujarnya.
Miftadi memprediksi sekitar 44 persen perempuan terlibat pada desain pengembangan aplikasi ini.
Dari sisi mitra pemerintah, ada 34 persen keterlibatan berasal dari perempuan, termasuk juga penanggung jawab program dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).
Menurutnya, kelompok ibu rumah tangga selama ini jadi pihak yang paling aktif pada proses evakuasi serta mitigasi saat terjadinya rob.
“Ketika kami mengadakan pelatihan di tingkat RT, sekitar 80 persen peserta yang hadir adalah ibu-ibu,” tuturnya.
Harapan pengembang, Tide-Eye bisa jadi model sistem peringatan dini berbasis teknologi yang mudah diakses masyarakat pesisir.
Selain memberikan informasi tentang ketinggian air secara real time, harapannya aplikasi itu bisa mendorong kesiapsiagaan warga untuk menghadapi ancaman rob yang semakin sering terjadi.
Rob ini terjadi imbas penurunan muka tanah serta kenaikan permukaan laut.
Ikuti berita terkini dari BINDO di
YouTube, dan Dailymotion
