Ekonomi
Targetkan Pasar Alat Berat Listrik Indonesia, XCMG Meresmikan Pabrik Di IWIP
Jakarta, Bindo.id – Produsen alat berat asal China, XCMG telah meresmikan pabrik manufaktur peralatan energi baru pertamanya di luar negeri yang berlokasi di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah, Maluku Utara, Senin (27/7/2026).
Peresmian fasilitas ini ditandai dengan penyerahan batch pertama alat berat listrik ke IWIP sebagai mitra strategis perusahaan.
Hadirnya pabrik ini menjadi bagian dari ekspansi manufaktur XCMG di luar negeri serta menghadirkan produksi alat berat listrik secara lokal untuk memenuhi kebutuhan di sektor pertambangan, pembangunan infrastruktur, maupun logistik kawasan industri di Indonesia.
Vice President Director of XCMG Song Zhike menuturkan tahun 2026 jadi awal pelaksanaan Rencana 5 Tahun ke-15 perusahaan yang menempatkan ekspansi global serta pengembangan industri hijau sebagai 2 fokus utama.
“Basis Manufaktur Energi Baru XCMG Indonesia merupakan langkah strategis penting yang merepresentasikan integrasi mendalam dari kedua strategi tersebut,” tutur Song Zhike pada keterangan resmi, Selasa (28/7/2026).
Ia mengatakan fasilitas ini mengintegrasikan manufaktur unit lengkap, penelitian serta pengembangan yang disesuaikan dengan kondisi operasional lokal, maupun layanan purna jual lokal.
“Fasilitas ini secara signifikan mempersingkat waktu pengiriman serta mampu memenuhi kebutuhan berbagai sektor di Indonesia secara lebih tepat, mulai dari pertambangan, pembangunan infrastruktur, hingga logistik kawasan industri,” ujar Song.
Produksi Lokal dan Efisiensi Operasional
Produk pertama yang diproduksi di fasilitas ini yaitu wheel loader listrik murni XC968-EV yang memakai sistem penggerak motor ganda terintegrasi.
XCMG mengatakan jika dibandingkan alat berat yang berbahan bakar fosil pada kelas tonase yang sama, biaya operasional alat ini bisa berkurang sekitar 78 persen. Biaya perawatannya turun sebesar 60 persen.
Setiap unit diklaim bisa mengurangi emisi karbon dioksida sekitar 150 ton per tahun sehingga ditujukan untuk memberikan dukungan pada pengembangan tambang hijau dan kawasan industri rendah karbon di Indonesia.
Perusahaan mengatakan Basis Manufaktur Energi Baru XCMG Indonesia berfokus pada 2 arah utama, yaitu substitusi peralatan energi baru dan pengembangan ekonomi sirkular.
Dengan fasilitas ini, XCMG memasok alat berat listrik dalam skala besar serta mengembangkan sistem operasional sirkular untuk peralatan bekas maupun remanufaktur komponen untuk memaksimalkan efisiensi pemanfaatan sumber daya industri.
Dari sisi ketenagakerjaan, XCMG mengatakan proporsi karyawan lokal di Indonesia sudah mencapai hampir 80 persen.
Perusahaan mengatakan akan terus memperluas peluang kerja bagi tenaga kerja Indonesia serta mengembangkan talenta lokal yang punya kompetensi teknis.
Di tahun 2026, XCMG Machinery kembali masuk di daftar Fortune China ESG Impact List serta mempertahankan posisinya sebagai satu-satunya perusahaan industri alat berat yang masuk di daftar tersebut.
Penyerahan batch pertama peralatan energi baru jadi bagian dari kerja sama XCMG dengan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP).
Kata perusahaan, kolaborasi ini memadukan kemampuan XCMG dalam pengembangan dan manufaktur alat berat energi baru dengan ekosistem industri maupun kebutuhan operasional IWIP di Indonesia.
Sejak kerjasama diteken, kedua pihak menyelesaikan pembangunan hingga pengoperasian pabrik di waktu satu setengah tahun.
Perwakilan pelanggan menuturkan hadirnya produksi lokal memberi manfaat pada kegiatan operasional.
“Peralatan energi baru telah diproduksi secara lokal,” tutur perwakilan pelanggan.
“Selain lebih sesuai dengan kebutuhan operasional rendah karbon kami, respons layanan juga menjadi lebih cepat, sehingga secara nyata membantu kami meningkatkan efisiensi dan menekan biaya operasional,” imbuhnya.
Lebih dari 3 dekade mengembangkan pasar Indonesia, XCMG sudah membangun sistem operasional dan layanan yang terdiri dari 32 jaringan penjualan, 53 jaringan layanan, lebih dari 120 kendaraan layanan profesional, serta sistem pengelolaan suku cadang 3 tingkat.
Infrastruktur ini mendukung operasional lebih dari 30.000 unit peralatan XCMG di Indonesia serta jadi fondasi untuk operasional Basis Manufaktur Energi Baru XCMG Indonesia.
“Dengan beroperasinya pabrik manufaktur energi baru ini, XCMG Indonesia berhasil mewujudkan rantai industri terintegrasi yang mencakup penelitian dan pengembangan, manufaktur, pasokan, penjualan, layanan, serta dukungan pembiayaan,” ujar Song.
“Kehadiran peralatan energi baru yang diproduksi secara lokal menjadi salah satu pilar penting dalam mendukung pembangunan infrastruktur hijau yang berkualitas dan berkelanjutan di Indonesia,” imbuhnya.
Transisi Energi Perlu Investasi Besar
Di tengah pengembangan manufaktur alat berat listrik ini, Indonesia juga masih perlu investasi dalam jumlah besar demi mempercepat pembangunan pembangkit energi baru terbarukan (EBT) dan infrastruktur pendukungnya.
Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo sebelumnya menyatakan Indonesia perlu pendanaan senilai 152 miliar dollar AS atau sekitar Rp 2.300 triliun hingga 2040 untuk membangun pembangkit listrik EBT berserta infrastruktur pendukungnya.
“Price tag-nya 152 miliar dollar AS, jadi kalau dikalikan Rp 15.000, sekitar Rp 2.300 triliun antara hari ini sampai 2040,” tutur Darmawan di acara Road to Investment Days 2024: Powering The Future: Sustainable Energy Transformation for Indonesia di Jakarta, Rabu (6/3/2024).
Ia mengatakan revisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) targetnya penambahan kapasitas pembangkit sebanyak 80 gigawatt (GW) hingga 2040.
Dari jumlah itu, sekitar 75 persen asalnya dari pembangkit EBT, sedangkan 25 persen lainnya asalnya dari pembangkit berbasis gas.
PLN memperkirakan kebutuhan jaringan transmisi sepanjang 47.000 kilometer untuk menghubungkan sumber energi terbarukan dengan pusat-pusat permintaan listrik.
Dalam rangka merealisasikan kebutuhan ini, Darmawan menyatakan perlu kolaborasi berbagai pihak, seperti penyediaan teknologi, inovasi, maupun pendanaan, dengan porsi pembiayaan direncanakan berasal dari swasta sebanyak 60 persen dan PLN sebanyak 40 persen.
Ikuti berita terkini dari BINDO di
YouTube, dan Dailymotion
