Teknologi
Hastuti Rancang Kecerdasan Buatan Untuk Mengenali Keris Dan Pakuwon Jawa
Semarang, Bindo.id – Khafiizh Hastuti, Dosen Udinus Semarang memiliki ketertarikan yang mendalam tentang kebudayaan Jawa.
Dirinya bersama dengan tim peneliti mengembangkan riset tentang keris dan pakuwon (sistem kalender Jawa) berbasis kecerdasan buatan.
Hastuti mengaku memiliki koleksi keris. Salah satu yang paling memikat hatinya yakni keris luk 9 dengan bentuk (dhapur) Jarodeh. Keris tersebut berhiaskan motif (pamor) Nunggaksemi Pulotirta yang disebut peninggalan era Kerajaan Majapahit.
Setiap kali melihat keris itu, Khafiizh tak hanya melihat keindahan visual. Namun ia juga membaca pertemuan antara karakter fisik, jejak sejarah, serta tingginya tingkat keterampilan metalurgi para empu zaman dahulu.
“Saya tertarik pada keris karena merupakan pusaka dan warisan budaya Indonesia,” ujar Hastuti, Jumat (26/6/2026).
Kata Hastuti, keris merupakan sebuah ruang penyimpanan data yang kaya. Selain itu, juga punya makna identitas, status sosial, estetika, serta pengetahuan.
“Karena itu, merawat pemahaman tentang keris juga merupakan bagian dari upaya pemajuan kebudayaan,” tutur Hastuti.
Sehingga dokumentasi yang lebih sistematis dibutuhkan supaya bisa dipelajari lebih luas, khususnya generasi muda.
Kecerdasan Buatan untuk Mengenali Keris
Ketertarikan personal ini kemudian menuntun langkahnya untuk melakukan penelitian lebih dalam tentang keris.
Hastuti bersama dengan teman-temannya menulis riset yang judulnya “Mask-aware Augmentation and Residual Dilated Networks for Cultural Heritage Blade Classification”.
Di penelitian ini, dirinya ingin mengenalkan sistem kecerdasan buatan untuk membantu mengenali karakter keris.
“Penelitian tersebut memperkenalkan sistem kecerdasan buatan untuk membantu mengenali karakter keris melalui tiga unsur penting, yaitu pamor, dhapur, dan tangguh,” ujarnya.
Kata Hastuti, unsur pamor merujuk pada motif di bilah keris, dhapur ada kaitannya dengan bentuk atau karakter fisik keris, sedangkan tangguh kaitannya dengan perkiraan era atau latar historis pembuatannya.
Dia menuturkan ketiga unsur itu selama ini banyak dikenali lewat pengalaman panjang para empu, kolektor, kurator, serta pemerhati keris.
Hastuti bersama para peneliti kemudian membangun sistem yang bisa membaca bentuk bilah, pola visual, serta karakteristik keris secara lebih terstruktur.
Model yang dikembangkan diberi nama KerisRDNet, yang dirancang untuk alat bantu pengenalan, mendukung dokumentasi serta kurasi budaya.
“Sistem tersebut diuji untuk mengenali 27 kelas pamor, 42 kelas dhapur, dan lima kelas tangguh,” ujarnya.
Ia mengatakan dalam pengembangannya akan tetap menempatkan manusia sebagai pihak utama pada interpretasi budaya. Sehingga, kecerdasan buatan diposisikan untuk alat pendukung, bukan sebagai pengganti ahli keris.
“Digitalisasi keris berpotensi memperkuat dokumentasi koleksi, mendukung edukasi publik, serta membuka ruang pembelajaran yang lebih dekat dengan generasi muda,” tuturnya.
AI Pakuwon Jawa
Hastuti bersama teman-temannya juga mengembangkan kecerdasan buatan untuk melakikan digitalisasi sistem Pawukon Jawa lewat penelitian yang berjudul “Preserving Cultural Heritage through AI: A Novel Framework Integrating LangChain and ChatGPT for Analyzing and Digitalizing the Javanese Pawukon Calendar System”.
Pawukon adalah sistem kalender tradisional yang berisi hubungan antara wuku, dina, pancawara, saptawara, neptu, dan pengetahuan budaya yang ada kaitannya dengan ritual, perhitungan waktu, maupun kehidupan masyarakat.
“Tantangan utama pelestarian Pawukon adalah banyak sumber pengetahuan masih terdokumentasi dalam bahasa Jawa, termasuk dalam manuskrip dan buku-buku tradisional,” ujarnya.
Ia mengatakan kondisi itu membuat akses pada pengetahuan Pawukon belum selalu mudah.
Khususnya bagi generasi muda yang tak lagi terbiasa membaca sumber berbahasa Jawa secara mendalam.
“Dalam pengembangannya, tim memproses ratusan halaman manuskrip Pawukon berbahasa Jawa menggunakan pendekatan berbasis LangChain dan ChatGPT,” ujarnya.
Sistem itu dirancang untuk memahami konteks budaya, mempertahankan istilah Jawa, dan memberi jawaban dalam bahasa Jawa ataupun bahasa Indonesia.
Pendekatan tersebut tak hanya berfokus pada kemampuan teknis sistem, namun juga pada upaya menjaga makna budaya.
Jawaban yang dihasilkan dirancang agar tetap merujuk pada sumber manuskrip serta tak melepaskan konteks pengetahuan Pawukon.
“Dalam semangat pemajuan kebudayaan, teknologi harus membantu memperluas akses terhadap pengetahuan budaya tanpa menyederhanakan atau menghilangkan makna yang terkandung di dalamnya,” ujarnya.
Menurut Hastuti, pengembangan AI untuk budaya perlu dilakukan secara hati-hati serta melibatkan perspektif para ahli budaya maupun komunitas pemilik tradisi.
Keterlibatan perempuan, anak muda, akademisi, serta komunitas juga bisa memperluas ruang belajar dan memperkuat keberlanjutan pengetahuan budaya.
“Budaya adalah milik bersama,” ujarnya.
Ikuti berita terkini dari BINDO di
YouTube, dan Dailymotion
