Info Regional
Target 15.000 Mangrove Disiapkan Untuk Atasi Abrasi Dan Rob Di Kendal
Kendal, Bindo.id – Ada 190 kepala keluarga (KK) di Desa Kartika Jaya, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, terkena dampak banjir rob yang mengancam kawasan permukiman pesisir.
Pemerintah dan masyarakat mulai memperkuat perlindungan pantai dengan rehabilitasi hutan mangrove agar ancaman abrasi dan dampak kenaikan air laut berkurang.
Ada 1.000 bibit mangrove ditanam di wilayah pesisir Desa Kartika Jaya, Jumat (6/11/2026). Penanaman tersebut sebagai tahap awal program kolaborasi yang menargetkan 15.000 pohon mangrove bisa hidup serta tumbuh di beberapa kawasan pesisir Kendal.
Kegiatan ini juga melibatkan Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN), Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kendal, relawan, organisasi masyarakat, beserta kalangan pelajar.
Kepala BPGMN, Satyo Pudyatmoko, menyebut kunjungannya ke Desa Kartika Jaya tujuannya untuk melihat langsung permasalahan pesisir serta mengidentifikasi kebutuhan penanganannya.
Kata Satyo, saat ini kenaikan air laut sudah mencapai kawasan pedesaan sehingga perlu langkah mitigasi konkret untuk mengurangi dampaknya.
“Salah satu mitigasi agar dampaknya tidak terlalu besar adalah memperbaiki ekosistem pesisir melalui penanaman mangrove,” ujar Satyo.
Dia mengatakan mangrove fungsinya sebagai benteng alami untuk menekan abrasi serta menjadi habitat untuk berbagai biota laut, seperti udang, ikan, dan kepiting.
Hadirnya ekosistem tersebut juga berpotensi untuk meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir.
Satyo mendorong penerapan konsep silvofishery, yaitu perpaduan antara budidaya perikanan tambak dengan penanaman mangrove.
“Tambak ke depan harus dipadukan dengan mangrove atau silvofishery, sehingga perekonomian berjalan dengan baik, tetapi lingkungan juga tetap terjaga,” tuturnya.
Selain dilakukan rehabilitasi mangrove, BPGMN juga menyoroti tentang kebutuhan sanitasi masyarakat pesisir. Satyo menyebut pihaknya sudah melakukam koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum untuk mengidentifikasi kebutuhan pembangunan jamban maupun fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK).
Program sanitasi ini rencananya berjalan beriringan dengan pemulihan ekosistem mangrove. Desa Kartika Jaya memperoleh alokasi 2 unit fasilitas sanitasi.
Tentang perlindungan kawasan pesisir, Satyo mengatakan pembangunan infrastruktur, termasuk rencana tanggul laut raksasa (Giant Sea Wall), perlu dipadukan dengan pendekatan berbasis alam (nature-based solution).
Ia mengatakan penanganan harus disesuaikan dengan karakteristik serta kondisi setiap wilayah. Sehingga pembangunan tanggul laut bisa dikombinasikan dengan rehabilitasi mangrove secara selaras.
Target 15.000 Mangrove Hidup
Sekretaris DLH Kendal, Syaiful Huda, menyebut penanaman 1.000 bibit mangrove di Kartika Jaya sebagai tahap awal rehabilitasi kawasan pesisir. Selanjutnya, program serupa akan diperluas ke beberapa wilayah lain yang rawan abrasi maupun penurunan muka tanah.
Sejumlah lokasi yang jadi sasaran yakni Pelangsari di Kecamatan Pegandon, Pantai Cahaya, dan Pantai Jomblang di Desa Karanganyar.
Kata Huda, keberhasilan rehabilitasi mangrove tak cukup diukur dari jumlah bibit yang ditanam. Menurutnya, yang terpenting yakni memastikan tanaman itu bisa bertahan hidup serta berkembang biak.
“Kami tidak hanya menanam, tetapi juga merawat sampai tanaman itu tumbuh. Kalau ada tanaman yang mati, akan kami ganti. Jadi, bukan sekadar menanam hari ini lalu ditinggalkan,” tuturnya.
Pemerintah desa bersama kelompok masyarakat berkomitmen untuk mendukung target 15.000 pohon mangrove hidup dengan penanaman bertahap serta pemantauan yang berkelanjutan.
Relawan Jejak Bumi, Bangkit Suwasono, menyebut kegiatan tersebut sebagai langkah awal kerja sama dengan BPGMN untuk menangani permasalahan abrasi di Kendal.
Ia mengatakan kawasan pesisir perlu perhatian serius seiring meningkatnya tekanan pada lingkungan, termasuk imbas perkembangan kawasan industri.
“Kami dari teman-teman di Kabupaten Kendal ingin berupaya menangani abrasi ini dengan menanam pohon mangrove,” ujarnya.
Bangkit mengatakan pihaknya bersama pemerintah desa sudah menyepakati kolaborasi untuk memastikan 15.000 pohon mangrove tak sekadar tertanam, namun benar-benar hidup serta tumbuh subur.
190 KK Terkena Dampak Rob
Kepala Desa Kartika Jaya, Budi Hartono, menyebut sekitar 190 KK di wilayahnya terkena dampak langsung masuknya air laut ke kawasan permukiman.
Kondisi ini menyebabkan sejumlah warga harus meninggikan bangunan rumah supaya air rob tak mudah masuk. Abrasi serta kenaikan air laut juga mengubah lanskap wilayah desa.
Lahan yang sebelumnya dipakai untuk pertanian, saat ini sebagian sudah berubah jadi tambak. Beberapa tambak tak lagi produktif sebab terkena dampak intrusi air laut.
“Selama ini mangrove di kawasan pesisir banyak yang tumbang karena terkena arus dan abrasi. Karena itu, sekarang kami tidak berani lagi menanam di tepi pesisir. Kami memilih menanam di sekitar tambak yang lokasinya lebih dekat dengan permukiman warga,” ujar Budi.
Harapan pemerintah desa, pengembangan kawasan mangrove ke depan bisa mencapai 10 hingga 15 hektare. Selain fungsinya sebagai pelindung alami dari abrasi, kawasan tersebut juga diharapkan bisa dikembangkan jadi destinasi wisata mangrove di Kabupaten Kendal.
Rencana konsep wisata yakni pembangunan jalur atau jembatan di tengah kawasan mangrove sehingga pengunjung secara langsung bisa menikmati ekosistem pesisir.
Harapan Budi, pendampingan BPGMN tak berhenti di kegiatan penanaman, namun juga dilanjutkan dengan pembinaan, konservasi, serta edukasi kepada masyarakat secara berkesinambungan.
Ikuti berita terkini dari BINDO di
YouTube, dan Dailymotion
