Inspirasi
Buah Asam Yang Berserakan Di SMAN 1 Karas Magetan Diolah Jadi Dodol dan Permen
Magetan, Bindo.id – Di sepanjang jalan masuk SMA Negeri 1 Karas, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, buah asam hawa sering berserakan.
Selama ini pohon-pohon asam yang tumbuh di kawasan sekolah tersebut menjadi bagian dari pemandangan sehari-hari.
Saat ini buah yang jatuh dan sering dibiarkan tersebut memiliki nilai lebih.
Buah asam ini diolah menjadi dodol dan permen. Sebagian lainnya juga dikembangkanjadi produk kunyit asam.
Dengan kegiatan keterampilan di sekolah, siswa belajar menggunakan tanaman yang tumbuh di sekitar mereka jadi produk makanan yang dapat dipasarkan.
“Di SMA Negeri 1 Karas itu ikonnya memang asam. Sepanjang jalan masuk ke SMA Karas terdapat pohon asam yang banyak sekali. Maka dari itu, kami mengambil salah satu ikon SMA Negeri 1 Karas untuk dikembangkan menjadi produk,” ujar David selaku guru Bahasa Indonesia SMA Negeri 1 Karas saat di pameran Sikap di SMAN 2 Magetan, Selasa (6/10/2026).
Siswa mengolah asam jawa tak hanya sekadar kegiatan membuat makanan. Mereka juga mulai mengenali bahan baku yang tersedia di lingkungan sekolah, mempelajari proses pengolahan, serta menyiapkan produk untuk dijual.
Dengan program double track sekolah, kegiatan ini dikembangkan.
Kata David, sebelum mengikuti kegiatan ini sebagian siswa hanya mengenal asam jawa sebagai bahan masakan.
Mereka belum banyak mengetahui buah ini juga dapat diolah jadi berbagai produk makanan.
“Anak-anak terkadang membiarkan buah asam yang jatuh begitu saja. Mereka biasanya hanya mengetahui asam digunakan untuk sambal rujak dan sebagainya. Namun, setelah bergabung dengan program double track, akhirnya mereka mengetahui manfaat asam itu bukan hanya untuk keperluan tersebut, tetapi juga bisa dibuat menjadi dodol dan produk lainnya,” ungkap David.
Ketersediaan bahan baku dan pesanan menjadi patokan untuk memproduksi olahan asam jawa.
Saat permintaan meningkat, sekolah bisa mengolah sekitar 10 kilogram asam jawa. Tim double track ikut menangani pengelolaan produk, termasuk juga menyiapkan barang untuk dijual.
“Kalau ada pesanan, kami pasti menyiapkan. Kami juga tetap menyiapkan produk untuk dijual di sekolah,” ujar David.
Kegiatan ini mempertemukan pembelajaran di sekolah dengan praktik usaha sederhana. Siswa tak hanya belajar melakukan pengolahan bahan pangan, namun juga mengenal sebuah produk perlu proses produksi dan pemasaran supaya memiliki nilai ekonomi.
Tidak harus menunggu lahan luas
Pemanfaatan potensi lokal di SMA Negeri 1 Karas sebagai salah satu contoh pendekatan pembelajaran ketahanan pangan yang dikembangkan lewat program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP) Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyebut gagasan program tersebut mulai diinisiasi sejak pandemi Covid-19.
Menurutnya, ketahanan pangan tak seharusnya hanya dipahami sebagai kegiatan pertanian yang perlu lahan luas.
“Kalau berbicara tentang ketahanan pangan, dalam perspektif banyak masyarakat, itu harus memiliki area yang luas. Akhirnya diinisiasi bahwa kita bisa bertanam, membangun perikanan, dan peternakan tanpa harus memiliki area yang luas,” tuturnya saat melihat hasil program sikap di SMA N 2 Magetan.
Dengan SIKAP, sekolah didorong menggunakan ruang yang tersedia untuk kegiatan produktif. Media tanam bisa disesuaikan dengan kondisi sekolah, termasuk memakai wadah bekas dan polybag.
Sedangkan sekolah yang punya lahan lebih luas dapat menanam langsung di tanah
“Bisa menggunakan galon air mineral, bisa polybag. Sekolah yang memiliki area luas bisa menanam langsung. Begitu pula untuk perikanan dan peternakan,” tutur Khofifah.
Khofifah telah berkeliling melihat kegiatan ketahanan pangan yang dikembangkan siswa. Ia mengatakan sekolah bisa mengembangkan kegiatan menanam, budidaya ikan, atau peternakan sesuai fasilitas yang tersedia.
Program ini juga berkaitan dengan pengelolaan sampah yang ada di lingkungan sekolah. Sampah organik yang sebelumnya dibuang bisa diolah jadi kompos untuk mendukung kegiatan menanam.
“Dulu, bagian belakang sekolah cenderung menjadi tempat sampah. Kadang-kadang aromanya sampai ke kelas. Sekarang sangat sulit mencari sampah di sekolah karena sudah dijadikan kompos,” ujar Khofifah.
Pengolahan sampah jadi kompos memberi manfaat ganda. Lingkungan sekolah jadi lebih terawat. Sedangkan hasil pengolahan sampah bisa dipakai kembali untuk menyuburkan tanaman.
Dengan pendekatan ini, ketahanan pangan tak hanya dipelajari lewat kegiatan produksi bahan makanan.
Siswa juga mengenal tentang pentingnya mengelola lingkungan serta memanfaatkan sumber daya yang tersedia.
Produksi hingga pemasaran
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Ponorogo, Maskun, menyebut SIKAP mendorong sekolah untuk mengembangkan kegiatan ketahanan pangan sesuai potensi masing-masing.
Sekolah bisa memilih budidaya buah, sayuran, ikan, maupun ternak.
“Dengan program SIKAP ini, siswa memiliki keterampilan. Mereka belajar bagaimana proses produksi, kemudian memasarkan hasilnya, sampai mempersiapkan diri untuk kehidupan ke depan,” ujar Maskun.
Maskun menyebut kemampuan menghasilkan produk perlu diikuti dengan pengetahuan pemasaran.
Siswa juga perlu memahami bagaimana produk dikenalkan ke konsumen dan bagaimana kegiatan tersebut bisa memberi keuntungan.
“Kalau kita sudah memiliki teknologi yang tinggi, tetapi tidak bisa memasarkan, itu menjadi persoalan. Melalui program ini, siswa dihadapkan pada hubungan antara produk dan pemasaran, serta bagaimana memperoleh keuntungan,” tuturnya.
Harapannya, pembelajaran tersebut dapat memberi bekal keterampilan bagi siswa saat melanjutkan pendidikan, memasuki dunia kerja, atau mengembangkan usaha sendiri.
Di SMA Negeri 1 Karas, potensi ini berawal dari pohon asam yang ada di sekitar sekolah.
Tanaman yang sebelumnya hanya jadi bagian dari pemandangan sehari-hari, saat ini bisa menjadi sumber bahan baku produk olahan siswa.
Sekolah lain bisa mengembangkan kegiatan serupa dengan tanaman pangan, sayuran, budidaya ikan, atau peternakan sesuai kondisi lingkungan masing-masing.
Pengalaman ini memperlihatkan ketahanan pangan tak selalu dimulai dari lahan pertanian yang luas.
Potensi di sekitar sekolah juga dapat menjadi sumber pembelajaran, selama dikelola dengan pengetahuan dan keterampilan.
Dari buah asam yang jatuh di jalan masuk sekolah, siswa SMA Negeri 1 Karas belajar bisa mengenali potensi lokal, mengolah bahan pangan, serta memahami proses pemasaran.
Pelajaran ini juga memperkenalkan mereka pada kemungkinan sesuatu yang selama ini dianggap biasa bisa memberi manfaat lebih saat diolah secara kreatif.
Ikuti berita terkini dari BINDO di
YouTube, dan Dailymotion
