News
Data Center BDx Butuh 400 Liter Air Per Detik, PDAM Purwakarta Pastikan Pasokan Warga Tetap Aman
Purwakarta, Bindo.id – Pengembangan data center BDx CGK 4 di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat untuk kebutuhan air dialokasikan maksimal mencapai 400 liter per detik.
Direktur Utama Perumda Air Minum Gapura Tirta Rahayu Purwakarta, Riana Afriadi menyebut kebutuhan tersebut tak akan mengurangi pasokan air yang diperuntukkan masyarakat.
Riana mengatakan Kabupaten Purwakarta punya kuota air sebesar 3,01 meter kubik per detik dari data Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Citarum.
PDAM Purwakarta saat ini memakai sekitar 380 liter per detik untuk memenuhi kebutuhan air lebih dari 30.000 keluarga.
“Seandainya seluruh keluarga Kabupaten Purwakarta menggunakan air dari PDAM, air yang dibutuhkan hanya sebesar 1,45 kubik per detik,” ujar Riana dilansir dari Kompas.com, Jumat (2/1/2026).
Perhitungan ini, masih ada sekitar 1,56 meter kubik per detik dari kuota air yang tersedia setelah kebutuhan masyarakat terpenuhi.
“Jadi, air sisa ini yang kami manfaatkan untuk pengembangan ke BDx,” tuturnya.
Pada rencana pengembangan untuk BDx CGK 4, PDAM Purwakarta akan menyiapkan kapasitas pengolahan air sebesar 750 liter per detik.
Dari kapasitas itu, kebutuhan data center BDx akan dialokasikan maksimal sekitar 400 liter per detik.
Sehingga masih ada sekitar 350 liter per detik kapasitas pengolahan yang bisa dipakai untuk mendukung pengembangan pelayanan lainnya.
Kata Riana, kapasitas 350 liter per detik tersebut setara dengan sekitar 30 juta liter air dalam 1 hari.
Asumsi kebutuhan air 120 liter per orang per hari serta rata-rata 1 keluarga terdiri dari 4 orang, kapasitas itu secara teoretis setara dengan kebutuhan air sekitar 63.000 keluarga.
Dia mengatakan angka tersebut dari perhitungan secara teoretis. Pelayanan di lapangan, kapasitas air tetap harus mempertimbangkan kondisi sumber air, sistem produksi, jaringan perpipaan, tekanan air, maupun pola pemakaian pelanggan.
“Namun, dalam pelayanan sebenarnya, kapasitas tersebut tetap harus mempertimbangkan kondisi sumber air, sistem produksi, jaringan, tekanan, serta pola pemakaian pelanggan,” ujar Riana.
Dia mengungkap gangguan pelayanan air yang belakangan terjadi di beberapa wilayah Purwakarta dipengaruhi dua kondisi utama.
Pertama yakni musim kemarau yang mengakibatkan debit sumber mata air ada penurunan.
Kedua yakni sebagian besar infrastruktur PDAM yang dipakai saat ini sudah melewati batas usia teknis sehingga perlu pembaruan dan peremajaan.
Infrastruktur itu meliputi sistem produksi hingga jaringan perpipaan. Kata Riana, permasalahan air bersih tak hanya berkaitan dengan banyaknya air yang tersedia di sumber.
Air harus diambil dari sumber, diolah jadi air bersih, selanjutnya dialirkan lewat jaringan perpipaan hingga sampai ke masyarakat.
“Sebesar apa pun potensi sumber air yang kita miliki, tanpa didukung infrastruktur yang memadai, kemampuan untuk mengolah dan mendistribusikan air tetap akan terbatas,” tuturnya.
Riana mengatakan kebutuhan pelanggan besar seperti BDx juga bisa menjadi momentum PDAM Purwakarta untuk mengembangkan serta memperbarui infrastruktur.
Infrastruktur yang usianya sudah tua bisa diperbarui secara bertahap.
Selain itu, kapasitas produksi bisa dikembangkan, jaringan perpipaan diperkuat, serta sistem distribusi ditingkatkan.
Harapannya, pengembangan tersebut juga membuka peluang PDAM untuk memperluas pelayanan ke wilayah yang masih punya keterbatasan akses air bersih.
Sejumlah wilayah yang disebut yakni Desa Cibinong, Desa Cikao Bandung, Desa Cilegong, serta Desa Kembang Kuning yang ada di sekitar Waduk Jatiluhur.
“Meskipun berada sangat dekat dengan salah satu sumber air terbesar di Indonesia, masyarakat di beberapa wilayah tersebut masih menghadapi keterbatasan akses terhadap air bersih,” ujar Riana.
Dia menyebut pengembangan infrastruktur ke depannya tak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan industri, namun juga meningkatkan akses masyarakat pada layanan air bersih.
“Jadi, kehadiran data center BDx CGK 4 tidak semata-mata kita lihat sebagai tambahan kebutuhan air. Kita melihatnya sebagai sebuah kesempatan,” tutur Riana.
“Kesempatan untuk memperbarui infrastruktur, kesempatan untuk meningkatkan kapasitas pelayanan, kesempatan untuk memperluas jaringan, dan yang paling penting, kesempatan untuk membangun sistem pelayanan air bersih yang lebih kuat bagi masyarakat Purwakarta,” ujarnya.
Kata Riana, pembangunan infrastruktur air tak hanya untuk memenuhi kebutuhan saat ini, namun juga memastikan pelayanan air bersih bisa terus berlangsung untuk masyarakat Purwakarta di masa mendatang.
Ikuti berita terkini dari BINDO di
YouTube, dan Dailymotion
