Connect with us

Ekonomi

Kemenperin Kerjasama Dengan Swiss Dan Jerman Untuk Menyiapkan SDM Industri Hadapi Era AI

Published

on

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita [joss]

Jakarta, Bindo.id – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bekerjasama dengan pemerintah Swiss dan Jerman untuk mempercepat pengembangan sumber daya manusia (SDM) industri berstandar global.

Kolaborasi ini diwujudkan lewat penyelenggaraan National Dual Vocational Education and Training (DVET) 2026.

Tujuan program ini untuk mempersiapkan tenaga kerja menghadapi perkembangan kecerdasan buatan (AI), otomatisasi, transisi ekonomi hijau, dan perubahan rantai pasok global menuju Indonesia Emas 2045.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menuturkan transformasi digital, perkembangan AI, otomatisasi, transisi menuju ekonomi hijau, dan dinamika rantai pasok global menuntut SDM yang adaptif, inovatif, serta punya semangat belajar.

“Karena itu penguatan pendidikan dan pelatihan vokasi menjadi prioritas nasional dan merupakan fondasi utama pembangunan SDM industri,” tutur Agus pada keterangan resmi, Selasa (21/7/2026).

Kemenperin lewat Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) menjalin kerja sama dengan pemerintah Swiss melalui State Secretariat for Economic Affairs (SECO) dan Swisscontact.

Kerja sama juga dilakukan dengan pemerintah Jerman lewat Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH.

Kolaborasi ini bertujuan untuk mempercepat peningkatan standar kompetensi SDM industri nasional supaya setara dengan standar global.

Kemitraan tersebut juga memperkuat hubungan strategis Indonesia dengan kedua negara.

Hubungan diplomatik Indonesia dengan Swiss sudah terjalin sejak 1951. Indonesia menjalin kerja sama bilateral dengan Jerman mulai tahun 1952.

BPSDMI Kemenperin sudah menjalin kerjasama dengan Swiss dan Jerman sejak 2018 dalam pengembangan SDM industri.

Program itu dijalankan lewat Skills for Competitiveness (S4C) bersama SECO serta dukungan GIZ pada reformasi sistem pendidikan dan pelatihan vokasi atau Technical and Vocational Education and Training (TVET).

Kerjasama ini berlanjut lewat program S4C Fase 2 bersama Swisscontact serta program Green Jobs for Social Inclusion and Sustainable Transformation (GESIT) yang didampingi GIZ.

Baca Juga  Agus Gumiwang Beberkan Jadwal Rapimnas Dan Munas Usai Dilantik Jadi Plt Ketum Golkar

Sebagai bagian dari implementasi program, BPSDMI bersama dengan pemerintah Swiss dan Jerman mengadakan National Dual Vocational Education and Training (DVET) 2026 tanggal 21 sampai 23 Juli 2026 di Jakarta.

Kepala BPSDMI Doddy Rahadi menuturkan kolaborasi yang sudah berjalan selama beberapa tahun berdampak pada penguatan ekosistem pendidikan vokasi industri di Indonesia.

Ia mengatakan hasil kerjasama berupa hibah peralatan praktik modern bagi satuan pendidikan, peningkatan kapasitas ribuan tenaga pendidik dan peserta didik, penguatan kelembagaan, dan pengembangan perangkat pembelajaran yang sesuai standar industri manufaktur.

“Yang tidak kalah penting, kita berhasil membangun sebuah budaya baru, yaitu budaya kolaborasi. Sekolah dan industri tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri, keduanya harus menjadi mitra yang setara dalam mencetak talenta masa depan,” ujar Doddy.

Head of Cooperation (Economic Cooperation and Development) SECO Violette Ruppanner menyatakan komitmen Swiss untuk memperkuat ekosistem pendidikan vokasi di Indonesia.

Ia mengatakan investasi pada pengembangan keterampilan sebagai investasi bagi manusia, dunia usaha, serta daya saing ekonomi.

“Sepanjang kemitraan ini, kita memiliki satu ambisi sederhana, yaitu mendekatkan dunia pendidikan dan industri. Ketika perusahaan aktif membantu menyusun kurikulum, menyediakan magang terstruktur, dan berinvestasi pada talenta masa depan, semua pihak akan diuntungkan,” ujar Violette.

Deputy Country Director GIZ Shameer Khanal menuturkan peningkatan kualitas SDM jadi faktor penting untuk mendukung transformasi industri, termasuk transisi menuju ekonomi hijau.

“Kegiatan hari ini adalah tentang berinvestasi pada manusia. Sebab, tidak ada transisi hijau yang dapat berhasil tanpa tenaga kerja yang dibekali dengan pengetahuan, keterampilan, dan kesempatan yang tepat. Hal ini mencerminkan keyakinan bersama kita bahwa transformasi yang sukses hanya dapat dicapai melalui kemitraan,” ujar Shameer.

Ikuti berita terkini dari BINDO di
YouTube, dan Dailymotion

Baca Juga  Kemenprin Hemat Air Hingga Perjalanan Dinas Demi Terapkan Efisiensi Anggaran