Connect with us

Kesehatan

Dokter Sulianti Saroso, Wanita Indonesia Berdedikasi Dibidang Kesehatan Hingga Internasional

Published

on

Prof Dr dr Sulianto Saroso diketahui memiliki nama asli Prof. Dr. Julie Sulianti Saroso [tribunnews]
Prof Dr dr Sulianto Saroso diketahui memiliki nama asli Prof. Dr. Julie Sulianti Saroso [tribunnews]

Jakarta, Bindo.id – Dokter Sulianti Saroso nama seorang dokter yang kiprahnya dikenal hingga internasional.

Dokter Sulianti Saroso mendedikasikan dirinya dibidang kedokteran hingga internasional. Selain itu, namanya juga disematkan di Rumah Sakit Pusat Infeksi (RSPI). Rumah sakit tersebut dibangun secara representatif di kawasan Sunter, Jakarta Utara.

Tak terhitung lagi, berapa kali orang telah menyebut namanya, menuliskannya serta membincangkannya di media penyiaran maupun media sosial. Dirinya juga tampil dalam google doodle hari ini.

Lalu, siapa sebenarnya Dokter Sulianti Saroso?

Pada catatan sejarah kebijakan bidang kesehatan di Indonesia, Profesor Dokter Sulianti Saroso, MPH, PhD, merupakan nama yang penting. Dirinya setidaknya telah berdedikasi dalam dua urusan penting yaitu pencegahan dan pengendalian penyakit menular, serta keluarga berencana (KB).

Dirinya merupakan seorang peneliti dan perancang kebijakan kesehatan, dan tak tertarik untuk menjadi dokter praktek.

“Ibu itu hampir-hampir tak pernah menyuntik orang atau menulis resep,” ujar Dita Saroso saar mengenang ibunya.

Dita Saroso merupakan putri dari Dokter Sulianti Saroso. Dita merupakan mantan profesional perbankan yang saat ini telah menikmati masa pensiunnya di Bali, dilansir dari indonesia.go.id.

Dedikasi Dokter Sulianti Saroso

Dokter Sulianti Saroso juga pernah menduduki jabatan sebagai Direktur Jenderal Pencegahan, Pemberantasan, dan Pembasmian Penyakit Menular (P4M) di tahun 1967. Dirinya juga merangkap menjadi Direktur Lembaga Riset Kesehatan Nasional (LRKN).

Pada posisi tersebut, Profesor Sulianti menaruh perhatian besar pada Klinik Karantina yang berada di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Klinik tersebut dikembangkannya menjadi RS penyakit menular sekaligus untuk melakukan riset penyakit menular.

Tak cukup hanya dengan observasi di RS karantina di Tanjung Priok, Dirinya juga mendirikan pos-pos kesehatan masyarakat yang tersebar di beberapa lokasi. Berdasarkan hasil observasi lapangan tersebut, kemudian lahirlah rekomendasi-rekomendasi.

Sejumlah rekomendasi yang digagasnya diantaranya vaksinasi massal, vaksinasi reguler (bagi anak usia dini), pelayanan kesehatan untuk ibu dan anak, produksi cairan “Oralit” bagi korban dehidrasi yang disebabkan oleh diare, serta perencanaan dan pengendalian kehamilan.

Profesor Sulianti aktif menjadi konsultan di lembaga internasional WHO dan Unicef menjelang masa pensiunnya. Masa pensiunnya yaitu pada pertengahan tahun 1970-an. Posisi tersebut membuat dirinya sering bolak balik ke keluar negeri.

Pascapensiun, dirinya juga tetap diminta untuk menjadi tim penasihat Menteri Kesehatan. Pada posisi tersebut, dirinya terus melakukan pengawalan tentang gagasan-gagasannya yaitu tata kelola kesehatan masyarakat, KB, serta pengendalian penyakit menular.

Salah satu ide yang terus dia kawal yaitu pengembangan RS Karantina Tanjung Priok untuk menjadi RS Pusat Infeksi dengan teknologi terbaru, piranti mutakhir, dan juga sumber daya manusia yang mumpuni.

Baca Juga  Heru Budi Adakan Rapat Dengan Luhut, Wajibkan Pejabat Pemprov DKI Gunakan Kendaraan Listrik

Dirinya melakukan itu dengan tujuan supaya RS tersebut dapat menjadi RS rujukan sekaligus lembaga pendidikan dan pelatihan. Akan tetapi, Dokter Sulianti wafat di tahun 1991 menjelang pembangunan RSPI.

Tak heran jika nama Profesor Sulianti Saroso disematkan menjadi nama resmi rumah sakit tersebut. RSPI tersebut diresmikan pada tahun 1995.

Biografi singkat Dokter Sulianti Saroso

Sulianti Saroso terlahir pada tanggal 10 Mei 1917 di Karangasem, Bali. Dirinya merupakan anak kedua dari keluarga Dokter M Sulaiman. Dokter M Sulaiman memiliki tempat tugas yang berpindah-pindah sebab profesinya sebagai dokter Meskipun demikian, Sulianti retap memperoleh pendidikan terbaik.

Dirinya mengikuti pendidikan dasar berbahasa Belanda ELS (Europeesche Lagere School). Selain itu juga mengikuti pendidikan menengah elite di Gymnasium Bandung, yang mayoritas siswanya berkulit putih.

Dirinya juga sempat melanjutkan pendidikan tinggi di Geneeskundige Hoge School (GHS), sebutan baru untuk Sekolah Kedokteran STOVIA yang ada di Batavia. Dirinya lulus menjadi dokter pada tahun 1942.

Di masa pendudukan Jepang, Sulianti telah bekerja menjadi dokter di RS Umum Pusat di Jakarta, yang saat ini dikenal dengan RS Cipto Mangunkusumo.

Di awal kemerdekaan, dirinya ikut bertahan di rumah sakit besar tersebut. Akan tetapi, saat ibu kota negara dipindahkan ke Yogyakarta, Sulianti ikut hijrah menjadi dokter republiken dan bekerja di RS Bethesda Yogyakarta.

Sulianti turut ikut pada garis politik keluarganya.

Ayahnya yang bernama dokter Muhammad Sulaiman merupakan kalangan keluarga priyayi tinggi yang ada di Bagelen-Banyumas. Keluarganya serumpun dengan Keluarga Soemitro Djojohadikusumo yang menjadu pengurus dan pendiri Boedi Oetomo, dengan memiliki pandangan politik pro Indonesia Merdeka.

Sulianti akrab dipanggil teman-temannya dengan sebutan Julie. Dirinya benar-benar terjun menjadi dokter perjuangan di Yogyakarta.

Dirinya mengirimkan obat-obatan ke kantung-kantung gerilyawan republik. Selain itu, dia juga terlibat pada organisasi taktis diantaranya Wanita Pembantu Perjuangan, Organisasi Putera Puteri Indonesia, dan organisasi resmi KOWANI.

Tahun 1947, Sulianti mengikuti delegasi KOWANI di New Delhi untuk hadir dalam Konferensi Perempuan se-Asia. Dari situ, Sulianti bersama teman-temannya melakukan penggalangan untuk pengakuan resmi kemerdekaan Indonesia.

Ketika pasukan Pemerintahan Sipil Hindia Belanda/NICA melakukan penyerbuan dan menduduki Yogyakarta, Desember 1948, Sulianti termasuk menjadi daftar panjang para pejuang kemerdekaan yang ditahan. Dirinya selama dua bulan telah meringkuk di penjara.

Baca Juga  WHO Deklarasikan Berakhirnya Kondisi Darurat Covid-19 di Seluruh Dunia

Kiprahnya di WHO

Pascarevolusi kemerdekaan, dokter Sulianti bekerja lagi di Kementerian Kesehatan. Dirinya meraih beasiswa dari WHO. Beasiswa tersebut untuk belajar mengenai tata kelola kesehatan ibu dan anak di sejumlah negara Eropa, terutama Inggris.

Dirinya pulang ke tanah air tahun 1952, dia telah berhasil membawa Certificate of Public Health Administrasion dari Universitas London. Dirinya juga ditempatkan di Yogyakarta menjabat sebagai Kepala Jawatan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan RI.

Gagasan Program KB

Tak menanti restu, Sulianti segera mengadakan penggalangan dukungan publik pada program kesehatan ibu dan anak. Program ini dilakukan khususnya tentang program pengendalian angka kelahiran melalui pendidikan seks dan gerakan keluarga berencana (KB).

“Dengan penuh semangat dia meminta pemerintah agar membuat kebijakan mendukung penggunaan kontrasepsi,” tulisan dari Terence H Hull.

Terence merupakan pengamat kebijakan kesehatan dari Australia National University (ANU), kutipan tersebut diambil dalam People, Population, and Policy in Indonesia, 2005. Terence mengatakan kebijakan tersebut berkaitan dengan sistem kesehatan masyarakat. Dokter Sulianti bergerak cepat dan gesit. Dirinya lebih mirip sebagai aktivis daripada sebagai birokrat.

Dirinya mengutarakan gagasan mengenai pendidikan seks, alat kontrasepsi, serta pengendalian kehamilan dan kelahiran. Gagasan tersebut diutarakannya melalui RRI Yogyakarta dan harian Kedaulatan Rakjat.

Sulianti merasa bahwa korelasi kemiskinan, malnutrisi, kesehatan ibu dan anak yang buruk, dengan kelahiran yang tidak terkontrol, merupakan fakta terbuka yang tidak perlu untuk didiskusikan.

Menurutnya yang mendesak yaitu langkah untuk memperbaikinya. Kampanye dokter Sulianti tersebut sempat menimbulkan kegaduhan. Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Yogyakarta kemudian mengadakan seminar. Dalam seminar tersebut melibatkan para dokter dan pemimpin organisasi keagamaan. Gagasan dari Sulianti mendapat penolakan disaat itu. Dirinya memperoleh teguran dari Kementerian Kesehatan.

Tak lama berselang, dirinya kemudian dipindah ke Jakarta. Dia mendapat promosi sebagai Direktur Kesehatan Ibu dan Anak di kantor Kementerian Kesehatan. Dia masih tetap memperjuangkan idenya mengenai program KB. Kini dia meneruskan idenya menggunakan jalur swasta.

Bersama beberapa aktivis perempuan, dirinya mendirikan Yayasan Kesejahteraan Keluarga (YKK). Klinik inilah yang memberikan inisiasi klinik-klinik swasta untuk memberikan pelayanan KB di sejumlah kota. Para pejabat kementerian tutup mata tentang hal ini.

Dirinya juga membuat pos layanan di Lemah Abang, Bekasi untuk menyediakan model sistem pelayanan ibu dan anak. Pelayanan medik yang ditujukan untuk ibu dan anak tidaklah tujuan akhir. Goal yang diharapkan yaitu kehidupan ibu dan anak dapat sehat dan bahagia.

Baca Juga  Status Kedaruratan Covid 19 Dicabut WHO, Pemerintah Fokuskan Untuk Memperkuat Sistem Kesehatan

Dokter Sulianti Suroso Mengambil gelar PhD

Pada tahun 1960-an, Sulianti mendapatkan cobaan. Suaminya yang bernama Saroso tersisih secara politik. Suaminya tersebut sebelumnya menjadi pejabat tinggi di Kementerian Perekonomian. Saroso merupakan tokoh PSI (Partai Sosialis Indonesia). Dia terciprat awan panas saat peristiwa PRRI.

Tidak ingin terpuruk pada situasi yang rumit, Sulianti kemudian mengambil beasiswa di Tulane Medical School, New Orleans, Louisiana. Sulianti berhasil meraih gelar MPH dan PhD dalam kurun waktu 5 tahun. Desertasinya membahas tentang epidemiologi bakteri E Coli.

Sulianti sempat menjadi asisten profesor di Tulane selama setahun usai menyelesaikan gelar PhD-nya. Saat itu dirinya juga memiliki opsi memperpanjangnya. Lamaran yang dikirimkannya untuk menjadi profesional di Kantor Pusat WHO di Genewa, Swiss telah diterima. Akan tetapi, saat dirinya ada di Jakarta dan tengah menyiapkan kepindahannya, Menteri Kesehatan Profesor GA Siwabessy menahan dirinya.

Tidak lama berselang, dokter Sulianti kemudian diangkat sebagai Dirjen P4M dan Direktur LRKN yang saat ini namanya dikenal dengan Balitbang Kementerian Kesehatan. Dirinya juga diizinkan untuk aktif di WHO. Saat menjadi Dirjen P4M, Profesor Sulianti mengumumkan deklarasi Indonesia bebas cacar.

Dirinya menjabat sebagai Dirjen P4M hingga tahun 1975, saat dirinya mundur dan memilih untuk fokus di Balitbang Kesehatan sampai pensiun di tahun 1978.

WHO masih membutuhkan kepakarannya dan memberikan jabatan sebagai pengawas di Pusat Penelitian Diare di Dakka, Bangladesh tahun 1979. Dia juga masih dibutuhkan menjadi staf ahli menteri di dalam negeri.

Di era 1970 sampai 1980-an, gagasannya mengenai pengendalian penyakit menular, KB, serta kesehatan ibu dan anak secara bertahap diadopsi untuk menjadi kebijakan pemerintah. Walaupun mempunyai kepedulian besar mengenai KB, Dita Saroso berpendapat ibunya tidak sempat turut terlibat pada eksekusi program tersebut.

‘’Ibu tak pernah masuk BKKBN,’’ tutur Dita berdasarkan apa yang dita ingat.

Pada penghujung karir, Profesor Sulianti bidang yang lebih banyak ditekuninya yaitu bidang yang sesuai dengan kompetensi akademiknya. Dirinya lebih menekuni tentang penyakit menular.

Sulianti tetap saja tidak tertarik untuk menangani pasien perorangan. Dia juga tak membuka praktek pribadi. Dita Saroso mengatakan bahwa ibunya lebih memilih menjadi dokternya masyarakat.

Filosofinya menjadi dokter tidaklah sebatas untuk melakukan pengobatan kepada pasien, namun membuat masyarakat terlebih kepada kalangan menengah ke bawah agar hidupnya dapat menjadi sehat, sejahtera, dan bahagia.

Ikuti berita terkini dari BINDO di
Google News, YouTube, dan Dailymotion