Connect with us

Ekonomi

Koperasi Pesantren Di Bandung Gandeng Ratusan Petani Dan Bawa Produk Pertanian Tembus Pasar Modern

Published

on

Koperasi Pondok Pesantren Al-Ittifaq di Kabupaten Bandung, Jawa Barat [kabarnusa]

Bandung, Bindo.id – Koperasi Pondok Pesantren Al-Ittifaq di Kabupaten Bandung, Jawa Barat telah mengembangkan model bisnis atau ekosistem pertanian yang menghubungkan petani dengan pasar agar lebih terstruktur.

Dengan koperasi, hasil pertanian anggota dikonsolidasikan untuk memenuhi kebutuhan di pasar ritel modern. Selain itu juga memberikan kepastian penyerapan produk dan pembayaran ke petani.

Ketua Pengurus Koperasi Pondok Pesantren Al-Ittifaq, Setia Irawan mengatakan jauh sebelum berkembang, awalnya koperasi ini dibentuk untuk memberi kemandirian pada pesantren.

Ini dikarenakan pesantren Al-Ittifaq punya sarana pendidikan yang tak dipungut biaya bagi santrinya, sehingga Pesantren didorong supaya mandiri secara operasional.

Seiring berkembangnya pesantren dan koperasi, Irawan mengatakan penguatan ekosistem pertanian semakin dibangun dengan memastikan kebutuhan akses pasar sebagai acuan dalam proses produksi.

Koperasi terlebih dulu mendapat informasi tentang kebutuhan komoditas dan volume dari pasar, selanjutnya mengatur pola tanam bersama petani.

“Jadi hulunya dan hilirnya jelas. Kami tahu pasar membutuhkan apa, berapa volumenya, kemudian kami atur bersama petani apa yang harus ditanam. Dengan begitu petani tidak menanam tanpa kepastian pasar,” tutur Setia, dikutip Selasa (29/9/2026).

Model ini membuat koperasi tak hanya berperan sebagai tempat menghimpun dan menjual hasil pertanian, namun juga sebagai offtaker yang bisa menyerap produk petani.

Kata Setia, salah satu prinsip yang dijaga Al-Ittifaq yakni pembayaran hasil pertanian ke petani dilakukan secara langsung, sehingga petani tak harus menunggu pembayaran dalam jangka waktu tertentu.

“Petani kami dibayar langsung, tidak tempo. Karena kalau koperasi menerima pembayaran dari pasar kemudian petani harus menunggu, itu akan mengganggu cash flow petani,” ujarnya.

Seiring usaha yang berkembang, saat ini Al-Ittifaq memasok berbagai komoditas pertanian ke beberapa segmen pasar, yakni ritel modern, hotel, restoran, katering, maupun kebutuhan dapur pusat.

Baca Juga  BP2MI Gandeng BNPT Atasi Pekerja Imigran Yang Rentan Terpapar Radikalisme

Produk yang dikelola semakin beragam, seperti sayuran, buah-buahan maupun sejumlah komoditas rempah.

Setia mengatakan perkembangan tersebut berjalan seiring dengan bertambahnya jumlah petani yang terhubung dengan koperasi.

Dari sebelumnya 120 petani, saat ini jumlah petani yang memasok melalui ekosistem Al-Ittifaq sekitar 280–300 petani.

Volume produksi yang sebelumnya ada di kisaran 1,7–2 ton per hari juga mengalami peningkatan menjadi sekitar 7–8 ton per hari.

Setia mengatakan penguatan kapasitas koperasi tak terlepas dari kebutuhan modal kerja untuk menjaga kesinambungan rantai pasok.

Pada konteks tersebut, LPDB Koperasi jadi salah satu mitra yang mendukung penguatan permodalan Al-Ittifaq.

“LPDB sudah kami kenal sejak 2014, kemudian pembiayaan pertama kami dengan LPDB terjadi pada 2020. Saat itu situasinya pandemi, tetapi justru menjadi momentum bagi kami untuk memperkuat koperasi,” tutur Setia.

Ia mengatakan dukungan dana bergulir tersebut dapat membantu memperkuat kapasitas keuangan koperasi dalam melaksanakan kegiatan usaha.

Ketersediaan modal kerja termasuk penting sebab koperasi harus menjaga kemampuan menyerap hasil produksi petani serta memenuhi kebutuhan pasar secara berkelanjutan.

“Dengan adanya tambahan modal, aset dan kemampuan usaha koperasi menjadi lebih kuat. Kami juga bisa membeli kebutuhan petani dalam jumlah lebih besar, misalnya pupuk, sehingga harganya bisa lebih kompetitif,” ujarnya.

Menurut Setia, hubungan antara koperasi dan petani tak cukup hanya dibangun lewat transaksi jual beli.

Koperasi perlu memahami tentang kebutuhan petani sejak proses produksi. Selain itu juga memastikan produk yang dihasilkan sesuai kebutuhan pasar.

Al-Ittifaq terus mendorong peningkatan produktivitas dan kualitas lewat pengembangan teknologi pertanian, termasuk penggunaan greenhouse.

Pengembangan itu diarahkan untuk membantu petani dalam meningkatkan produktivitas serta menghasilkan produk yang memenuhi standar pasar.

Baca Juga  ARLECT 2024 Bahas Peran Penting Koperasi Pembiayaan Dan Ekonomi Syariah

Pada perjalanan usahanya, Al-Ittifaq juga memperkuat akses ke pasar ritel modern. Koperasi memasok produk pertanian ke jaringan Super Indo dan Yogya.

Selain memenuhi kebutuhan berbagai pelanggan dari sektor hotel, restoran maupun katering.

Setia mengatakan masuk ke pasar modern membawa konsekuensi berupa tuntutan kualitas, kontinuitas pasokan, keamanan pangan serta pemenuhan standar. Hal itu menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan pasar serta meningkatkan kapasitas petani maupun koperasi

Harapan Al-Ittifaq kedepannya, kemitraan dengan LPDB Koperasi bisa terus berkembang, tak hanya dalam dukungan pembiayaan, namun juga lewat penguatan akses pasar, business matching serta pembukaan jejaring usaha bagi koperasi.

“Kami berharap LPDB bukan hanya menjadi lembaga pembiayaan, tetapi juga bisa menjadi jembatan untuk mempertemukan koperasi dengan pasar. Karena kebutuhan koperasi bukan hanya modal, tetapi juga bagaimana produk kami bisa terserap dan berkembang,” tutur Setia.

Pengalaman Al-Ittifaq menunjukkan penguatan koperasi bisa berjalan seiring dengan penguatan petani saat produksi, pembiayaan maupun pasar dibangun dalam 1 ekosistem.

Dalam model tersebut, koperasi sebagai penghubung antara kebutuhan pasar dengan kemampuan produksi petani, sedangkan dukungan pembiayaan sebagai salah satu instrumen untuk menjaga keberlanjutan rantai pasok.

Bagi LPDB Koperasi, penguatan ekosistem seperti yang dikembangkan Al-Ittifaq sebagai bagian dari upaya memperluas pemanfaatan dana bergulir supaya memberi dampak pada pengembangan usaha koperasi dan sektor riil.

Semakin kuatnya koperasi, harapannya akses pasar dan kapasitas usaha anggota bisa terus berkembang secara berkelanjutan.

Ikuti berita terkini dari BINDO di
YouTube, dan Dailymotion