Connect with us

News

Suntik Hormon Peninggi Anak Bisa Ganggu Pubertas

Published

on

Bahaya suntik hormon peninggi anak [ibupedia]

Tangerang Selatan, Bindo.id – Memantau fase tumbuh kembang anak, kapan mereka masuk masa pubertas, termasuk kewajiban orangtua.

Ketidaktahuan jadwal perkembangan fisik yang wajar bisa berakibat fatal pada fungsi masa depan organ reproduksi anak.

Salah satu kondisi penyimpangan yang perlu diwaspadai yakni pubertas dini.

Daripada panik ketika melihat fisik anak berubah terlalu cepat, orangtua harus melihat kondisi itu sebagai sinyal penting untuk memeriksakan adanya potensi penyakit bawaan.

“Pubertas dini ini sebenarnya dia gejala yang kita temukan. Dia cuma kayak pintu masuk. Sebetulnya banyak sekali yang behind-nya. Kelainan kromosom yang paling sering,” tutur dr. Agus Heriyanto Sp.OG, Subsp FER, MARS MM, saat sesi diskusi Eka Hospital BSD bersama awak media di Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan, Selasa (28/7/2026)

Tantangan pertumbuhan fisik dan deteksi hormon anak

1. Batas usia pubertas anak

Pubertas pada anak sebagai indikator utama sistem reproduksi yang berjalan normal.

Urutan kemunculan tanda seks sekunder, berupa pertumbuhan payudara, kemunculan bulu halus, hingga fase menstruasi punya rentang waktu yang wajib dicermati.

“Pubertas itu kan ada step-step-nya. Batasnya sekarang sudah diturunin 15 tahun,” ujar dr. Agus.

Orangtua perlu waspada apabila tanda-tanda fisik itu belum ada ketika anak memasuki usia remaja, atau justru muncul terlalu cepat di bawah umur.

Intervensi harus segera dilakukan apabila pubertas datang terlalu dini untuk mencegah pertumbuhan tulang terhenti.

“Kalau usia sembilan tahun, payudara sudah tumbuh, sudah mens, iya itu enggak normal,” ujar dr. Agus.

2. Pintu deteksi kelainan genetik

Pemeriksaan kasus pubertas yang tidak wajar umumnya membuka temuan tentang ketidaksesuaian kromosom bawaan.

Kasus langka umumnya baru terdeteksi saat anak gagal mengalami tanda pubertas di usia seharusnya.

“Kelainan kromosom, kayak beberapa waktu lalu kita lihat kayak kasusnya Manganang (atlet voli), itu adalah pintu masuk, antara pubertas kecepetan atau pubertas terlambat,” ujar dr. Agus.

Kondisi genetika silang seperti Sindrom Turner bisa merusak kesehatan organ reproduksi secara total apabila dibiarkan tanpa ada penanganan medis sejak awal.

“Tentu saja bisa berbahaya, ada yang mengancam jiwa, yang pasti mengancam kesehatan reproduksinya,” ujar dr. Christian Christoper Sunnu, Sp.And.

3. Ambiguitas alat reproduksi

Gangguan kromosom yang tak segera ditangani bisa berpotensi menimbulkam kebingungan identitas medis.

Banyak pasien tak menyadari tentang anatomi genetika aslinya sampai mereka memeriksa lanjutan saat usia sudah besar.

“Yang kita pikir perempuan dia ternyata laki. Yang kita pikir laki ternyata dia perempuan, XY atau XX, itu pintu masuk,” ujar dr. Agus.

Pasien dengan kondisi kelainan itu umumnya tidak punya anatomi reproduksi yang lengkap untuk menunjang proses kehamilan di masa depan sebab kegagalan pembentukan organ sejak di dalam kandungan.

“Yang lainnya tidak terbentuk. Ya ibaratnya enggak punya pabrikannya. Antara enggak punya sperma atau enggak punya telur, dia enggak bisa hamil,” ujar dr. Sunnu.

4. Bahaya terapi hormon peninggi secara asal

Selain permasalahan keterlambatan pubertas, kekhawatiran orangtua tentang laju pertumbuhan fisik anak juga sering menimbulkan masalah baru.

Tak sedikit dari mereka meminta intervensi medis berupa suntikan growth hormone supaya tinggi sang anak melebihi batas genetika keturunannya.

Padahal, dokter punya hitungan matematis tersendiri untuk mengukur berapa tinggi maksimal anak.

“Tinggi ayah ditambah tinggi ibu. Kalau laki-laki ditambah sekitar 15 cm dibagi 2. Itu tinggi optimalnya. Kalau perempuan dia cuma ditambah 7 cm dibagi 2,” ujar dr. Sunnu.

Kasus pengecualian terjadi untuk anak yang memang terlahir yang kondisinya kekurangan hormon pertumbuhan.

Dokter Sunnu mencontohkan riwayat pesepak bola Lionel Messi yang perlu dosis besar serta terapi panjang sebab postur tubuhnya saat kecil.

Akan tetapi, banyak anak bertubuh normal justru dipaksa orangtua untuk menerima growth hormone dosis tinggi hanya demi ambisi.

“Jangan dikira terapi hormon itu semuanya aman. Kalau enggak dilakukan oleh ahlinya itu bisa terkena diabetes, kencing manis,” ujar dr. Sunnu.

Suntikan hormon dapat memacu tubuh menyerap gizi secara berlebihan serta mendongkrak nafsu makan.

Penggunaan tanpa ada pengawasan ketat akan langsung bisa merusak metabolisme anak.

“Growth hormone ini dia bisa menurunkan resistensi insulin. Jadi insulinnya produksi tetap, tapi dia enggak sensitif. Jadi itu yang menyebabkan dia diabetes tipe 2,” ujar dr. Sunnu.

Ikuti berita terkini dari BINDO di
YouTube, dan Dailymotion

Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *