Connect with us

Info Regional

Diduga Dibully 2 Anak Tetangganya, Anak Down Syndrome Di Surabaya Meninggal

Published

on

Anak Down Syndrome di Surabaya meninggal diduga akibat dibully 2 anak tetangganya [instagram]

Surabaya, Jawa Timur – Laras Abdul Wahid, seorang ayah dari anak down syndrome di Rungkut, Surabaya, Jawa Timur menyerahkan permasalahan hukum kepada pihak berwajib terkait kematian anaknya.

Anaknya yang berkebutuhan khusus (ABK) meninggal dunia di rumahnya sendiri setelah diduga mengalami perundungan yang dilakukan 2 anak tetangganya. Peristiwa memilukan tersebut terjadi tanggal 12 September 2026 di sebuah rumah kawasan Rungkut, Surabaya, Jawa Timur.

Seorang anak berkebutuhan khusus saat itu sedang duduk di kursi roda. Berdasarkan pengakuan sang ayah, dia mengalami down syndrome, jantung bocor bahkan mengalami gangguan penglihatan.

Anak berinisial Z (10 tahun) ini hanya menghabiskan harinya dengan duduk di kursi roda. Saat itu Z lagi berada di teras rumah dan sang ayah tertidur di kamar.

Ayahnya tertidur sebab efek dari meminum obat penyakit ginjal yang dideritanya. Sedangkan ibunya berangkat ke pasar untuk berjualan sari kedelai.

Betapa terkejutnya sang ibu saat kembali dari pasar, sebab melihat anaknya tertelungkup dan jatuh dari kursi roda yang selama ini menopang hidupnya. Saat ditemukan, Z kondisinya tidak sadar dan badannya tampak mulai membiru. Ibunya pun langsung memanggil sang suami yang berada di kamar tidur.

Situasi panik, orang tuanya pun meminta bantuan orang sekitar untuk membawa anaknya ke rumah sakit. Namun nyawa Z tak tertolong. Dari hasil pemeriksaan, ditemukan tali sepatu yang menjerat leher korban dengan sebilah besi. Kabarnya, mulut Z dimasukkan sabun colek hingga tertelan.

Ada 2 orang anak tetangga yang menyelinap masuk ke dalam rumah korban. Berdasarkan rekaman CCTV, tampak jelas pelaku masuk lewat pintu yang terbuka. Dari hasil penyelidikan dan gelar perkara, Polrestabes Surabaya menetapkan 3 tersangka, salah satunya yakni anak berinisial K yang usianya 10 tahun. 

Baca Juga  10 Polisi Luka Dampak Ledakan Di Mako Brimob Surabaya

Pelaku tak ditahan pihak kepolisian, bahkan masih sering beraktivitas di lingkungan rumah.

“Ya, menurut apa gelar perkara ataupun reka adegan itu di apa dilakukan penyiksaan itu gak ditahan masih bebas di rumah bersama orang tuanya sampai sekarang,“ ujar ayah korban, Laras Abdul Wahid.

Laras Abdul Wahid bahkan sampai menangis ketika melihat pelaku yang masih bebas berkeliaran di lingkungan sekitar meskipun sudah menghilangkan nyawa anaknya.

“Saya remuk hati saya, Mas. Nangis, nangis hati saya. Lihat mereka itu (tersangka) apa lewat di depan mata saya itu nangis,” tuturnya.

Sang ayah punbertanya-tanya kenapa anaknya itu menerima tindakan kejahatan dari orang lain. Padahal, Z tak bisa berbuat apa-apa sebab keterbatasannya.

“Anak saya salah apa? Pernah ngomong sama orang juga enggak. Anak saya terdiam di kursi roda mulai kecil,“ ujar Laras sambil menangis.

“Enggak punya salah apa-apa, enggak punya dosa apa-apa. Anak saya, anak saya bisanya cuma (ngomong) Allah, Allah gitu tok,” imbuhnya.

Ikuti berita terkini dari BINDO di
YouTube, dan Dailymotion