Connect with us

Info Regional

Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi Nasional 8 Persen Dengan Industri Berbasis Sains

Published

on

Menristek Dikti Brian Yuliarto [cnnindonesia]

Bandung, Bindo.id – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Brian Yuliarto mengatakan Indonesia harus bergerak cepat untuk melahirkan industri berbasis sains dan teknologi.

Hal ini dikarenakan industri jenis ini punya efek berlipat yang siginifikan serta bisa mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi nasional sampai 8 persen.

“Bangsa kita harus melaju cepat dan di sinilah peran yang vital adalah munculnya industri berbasis sains dan teknologi,” ujar Brian saat hadir du Seminar Nasional bertajuk Strategi Teknologi, Industri, dan SDM Menuju Indonesia Emas 2045′.

Acara tersebut digelar Ikatan Alumni ITB 80 di ITB Bandung pada Sabtu (31/1/2026). 

Ia mengatakan hal itu punya efek berlipat untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. 

Brian menegaskan industri berskala besar perlu sumber daya manusia dengan high-risk skill, riset mendalam, dan inovasi berkelanjutan. Perguruan tinggi dalam hal ini jadi kunci akselerasi kebutuhan untuk mendukung industri.

Kolaborasi perguruan tinggi dan alumni juga jadi penting. Terutama alumni dari perguruan tinggi teknologi seperti ITB yang punya keunggulan berupa pengalaman profesional dan jejaring luas. Sebagian diantaranya sudah terlibat langsung pada pengelolaan industri.

“Kami Kemendiktisaintek punya program yaitu riset hilirisasi, jadi industri kita tanya apa kebutuhannya, apa yang mesti diriset, kebutuhan inovasi apa, nanti kementerian akan mencarikan guru besar dan peneliti yang sesuai bidangnya, bahkan kita akan mendanai melalui program pendanaan riset untuk mendukung kebutuhan industri,” ujarnya. 

Harapan Brian dengan pendekatan tersebut industri nasional bisa memperkuat kapasitas inovasi maupun risetnya.

Sehingga produktivitas meningkat serta industri indonesia bisa naik kelas pada tingkat global.

“Harapannya industri memiliki kekuatan inovasi, riset dan dengan begitu industri semakin tinggi produktivitas dan menjadi industri berkelas,” ujarnya. 

Baca Juga  Airlangga Dengarkan Keluhan Masyarakat Saat Kunjungan Ke Magelang dan Purworejo

Brian menuturkan pemerintah punya basis data yang kuat tentang perguruan tinggi, dosen maupun guru besar di seluruh Indoensia.

Berdasarkan arahan Presiden, Kementrian mengkajian kebutuhan strategis bangsa yang selanjutnya diklasterkan serta diisi oleh dosen serta guru besar lintas perguruan tinggi. 

“Yang utama bidang sains teknologi, dalam kondisi sekarang kita butuh industri berbasis sains teknologi apalagi kita punya kekayaan mineral banyak,” tuturnya.

Tim Ahli Kemenko Perekonomian Rizal Affandi Lukman, menyoroti tentang tantangan mendasar struktur ekonomi Indonesia ditengah momentum bonus demografi yang diprediksi mencapai puncak periode 2035-2040. 

Menurut Riza, stabilitas makroekonomi dan fiskal yang selama ini terjaga belum cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melebihi angka 5 persen.

Persoalan utama terletak pada struktur pelaku usaha, terutama di sektor usaha mikro, kecil dan menegah (UMKM).

Rizal mengatakan Indonesia menghadapi fenomena mising middle, yaitu lemahnya lapisan usaha menengah.

Ia mengatakan jumlah usaha mikro dan kecil sangat besar, akan tetapi hanya sedikit yang bisa naik kelas jadi usaha menengah. 

“UMKM sulit tumbuh menjadi usaha menengah. Yang jumlahnya besar adalah usaha kecil, bagian menengah kosong. Padahal usaha kelas menengah diperlukan agar kemampuan UMKM bisa menembus pasar internasional yang ditopang oleh inovasi teknologi,” ujar Rizal.

Dia mengatakan pentingnya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, tanpa tenaga kerja terampil, lonjakan jumlah penduduk usia produktif justru berpotensi jadi beban ekonomi.

Ia mengatakan peningkatan keterampilan ini akan berdampak secara langsung pada kenaikan pendapatan masyarakat.

Kondisi ini akan meningkatkan Marginal Propensity to Save (MPS) atau kemampuan menabung, sebagai modal untuk investasi pengembangan usaha.

“Negara dengan MPS tinggi cenderung lebih mampu memperkuat saving investment loop atau tabungan yang bisa mempercepat industrialisasi, seperti yang terjadi di Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok,” ujarnya.

Ketua Seminar Nasional Alumni ITB 80, Boto Simatupang menuturkan bahwa berbagai gagasan dan rekomendasi di forum ini akan dilanjutkan dengan roadshow ke beberapa kementrian, pertemuan dengan pelaku usaha maupun kemitraan untuk pengelolaan pengetahuan.

Baca Juga  Mendiktisaintek Memastikan Tidak Ada Kenaikan UKT Mahasiswa

Boto menegaskan tentang pentingnya kebijakan fiskal yang berpihak pada penguatan industri nasional supaya bisa bersaing.

Dirinya mendorong pemerintah agar bisa belajar dari negara-negara maju di Asia yang berhasil membangun industri unggulan. 

“Faktor keberhasilan bisa ditularkan. Sementara pemerintah harus ada keberpihakan misalnya dengan membuat kebijakan fiskal agar industri bisa kompetitif. Belajar dari Jepang dan Korea Selatan, mereka memilih the winner (bidang yang unggul), memilih untuk dikembangkan dan mereka diberi insentif sehingga kompetitif,” ujarnya.

Ikuti berita terkini dari BINDO di
YouTube, dan Dailymotion