Kesehatan
Menkes Budi Kunjungi RSUD Kota Bima Naik Kelas C Yang Siap Menangani Stroke hingga Jantung
Bima, Bindo.id – RSUD Kota Bima naik kelas dari tipe D jadi tipe C pada Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden.
Meski belum beroperasi serta masih di tahap penyelesaian, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin ikut meninjau ke rumah sakit itu di Nusa Tenggara Barat, Jumat (27/2/2026).
RSUD Kota Bima sebagai satu dari 66 rumah sakit daerah yang ditingkatkan kelasnya. Target penyelesaian sekitar 2 tahun, yaitu 2025-2026.
Program ini menyasar daerah-daerah terpencil supaya punya fasilitas kesehatan yang lebih memadai.
Satu dari 66 RSUD dalam pogram presiden
Kata Budi, peningkatan kelas RSUD Kota Bima menjadi bagian dari arahan Presiden agar memperkuat layanan kesehatan di wilayah terpencil.
“Ini adalah satu dari 66 RSUD yang akan dibangun oleh Pak Presiden Prabowo. Jadi seluruh daerah-daerah terpencil, beliau minta agar dibangun RSUD,” tutur Budi pada kunjungan tersebut.
Kata Budi, rumah sakit tersebut disiapkan untuk bisa menangani 5 penyakit utama penyebab kematian tertinggi di Indonesia.
“RSUD ini bisa menangani 5 penyakit utama yang penyebab kematian. Yang nomor satu, paling tinggi itu kematian karena stroke, nomor dua jantung, nomor tiga kanker, nomor empat ginjal, nomor lima itu ibu dan anak,” ujarnya.
Dia mengatakan dengan adanya fasilitas itu, masyarakat Bima dan sekitarnya diharapkan tak perlu lagi dirujuk jauh ke luar daerah.
Budi memastikan ketersediaan alat maupun tenaga medis jadi prioritas utama.
“Yang penting ada alatnya dan ada dokternya. Saya cek alatnya nanti akan berdatangan bertahap dan ini nilainya puluhan miliar. Nanti mudah-mudahan akan selesai di bulan Juni ya,” tuturnya.
Dia juga menyoroti tentang keberadaan dokter yang bertugas di RSUD Kota Bima. Harapan Budi, tenaga medis khususnya dokter yang bertugas asalnya dari Kota Bima.
“Saya tanya-tanya, alhamdulillah dokternya sudah ada semua. Saya juga cek, dokternya asli orang NTB apa enggak. Karena kalau dokternya orang Jawa, nanti sebentar-sebentar dia pulang ke Jawa,” ujarnya.
“Alhamdulillah, di sini dokternya saya tanya semuanya Putra-Putri NTB. Kalaupun bukan orang NTB, dia sudah terpaksa nyangkut di NTB karena menikah dengan orang NTB,” imbuhnya.
Beban rujukan ke Mataram Berkurang
Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhammad Iqbal mengatakan peningkatan kelas RSUD Kota Bima sebagai jawaban atas permasalahan layanan kesehatan di wilayah Bima dan Dompu.
Dirinya menyoroti 3 penyakit terbesar yang paling banyak dialami masyarakat setempat.
“Persoalan besar yang dihadapi oleh Kota dan Kabupaten Bima dan Dompu untuk tiga penyakit terbesar yang paling banyak dialami itu stroke, jantung, dan ginjal,” tuturnya.
Ia mengatakan ketiga penyakit itu sifatnya time-sensitive serta harus segera ditangani.
“Tiga-tiganya ini penyakit yang time-sensitive. Artinya, makin cepat ditangani, makin baik. Selama ini harus pergi ke Mataram. Sehingga ini jadi beban yang sangat berat buat masyarakat Bima,” ujarnya.
Perjalanan menuju Mataram butuh waktu panjang, sekitar 5 jam dari lokasi terdekat. Masyarakat masih merasa jarak tersebut masih jauh.
Fokus layanan KJSU serta kesehatan ibu dan anak
Direktur RSUD Kota Bima, dr. H. Fathurrahman menuturkan saat ini rumah sakit punya total 100 tempat tidur rawat inap.
Peningkatan kelas akan fokus pada layanan KJSU-KIA, yaknj kanker, jantung, stroke, uro-nefro, serta kesehatan ibu dan anak. Dia mengatakan kondisi itu sering berisiko pada pasien.
“Kasus-kasus ini yang paling sering kita rujuk ke provinsi dan membutuhkan perjalanan 14-16 jam melewati laut,” tuturnya.
“Sehingga kadang-kadang pasien tidak selamat di jalan. Makanya kita sangat antusias mengembangkan layanan KJSU-KIA di kota Bima ini,” ujarnya.
RSUD Kota Bima kedepannya akan mengembangkan layanan kanker dengan penanganan cytotoxic. Tentang layanan jantung, rumah sakit berencana membuka cath-lab.
Layanan uro-nefro juga akan diperkuat lewat pembukaan hemodialisa serta pengembangan CT scan untuk penanganan stroke.
“Uro-nefro juga kami rencanakan membuka layanan hemodialisa dan stroke, dengan kita mengembangkan juga CT scan dan cath lab itu sendiri yang kami fokuskan di sini adalah KJSU dan kesehatan ibu dan anak,” ujarnya.
Target Rumah sakit rampung pada Juni 2026, dengan operasional penuh serta pemindahan pasien dijadwalkan pada Agustus 2026.
Layanan yang tersedia saat ini diantaranya dokter radiologi, penyakit dalam, bedah, anestesi, dokter anak, obgyn, jantung, mata, serta ortopedi, meskipun belum punya dokter THT.
Harapannya dengan adanya peningkatan ini, RSUD Kota Bima bisa jadi pusat layanan rujukan regional yang mampu menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat di wilayah timur Nusa Tenggara Barat.
Ikuti berita terkini dari BINDO di
YouTube, dan Dailymotion
