Ekonomi
Langkah Taktis Hadapi Serbuan Produk Impor di E-Commerce Sedang Dikaji Purbaya
Jakarta, Bindo.id – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menuturkan pemerintah sedang mengkaji langkah kebijakan untuk menanggapi persaingan antara perdagangan daring maupun luring, termasuk tentang maraknya produk impor di platform digital.
Menurutnya, perkembangan teknologi mendorong lonjakan transaksi online yang begitu cepat.
Di satu kesempatan, ia menuturkan transaksi dapat mencapai puluhan ribu dengan waktu singkat.
“Dalam 15 menit saja bisa sampai 50.000 transaksi. Itu menunjukkan teknologinya luar biasa,” tutur Purbaya di Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (25/3/2026).
Akan tetapi di balik pertumbuhan tersebut, Purbaya mulai melihat adanya imbas perdagangan konvensional maupun offline yang mulai tertekan.
Ini juga diperkuat dari berbagai masukan para pelaku usaha di beberapa daerah, termasuk di kawasan industri.
Kata Purbaya, sebelumny pemerintah sudah mencurigai adanya pergeseran ini. Ia juga memperoleh konfirmasi bahwa perdagangan offline memang terkena dampak ekspansi perdagangan online.
Dirinya menyoroti pelaku pada ekosistem digital tak sepenuhnya didominasi para pelaku usaha domestik.
“Yang kita pikirkan, online itu kan sebagian besar digunakan orang Indonesia. Tapi ternyata yang banyak menguasai bukan orang Indonesia,” ujarnya.
Sehingga, pemerintah mulai mempertimbangkan upaya taktis supaya para pelaku usaha dalam negeri tetap bisa bersaing, baik di kanal offline atau online.
Kata Purbaya, apabila peralihan ke platform digital tak dapat dihindari, maka pemerintah ingin memastikan para pelaku usaha Indonesia tetap bisa jadi pemain utama.
Bendahara Negara menuturkan pemerintah sedang melakukan evaluasi beberapa kebijakan yang sebelumnya sempat ditunda, termasuk kemungkinan pengenaan instrumen tertentu pada perdagangan digital.
Kajian ini juga meliputi daya saing harga produk di dalam negeri dibandingkan dengan barang impor, terutama dari China.
Dia mengatakan adanya indikasi produk impor punya keunggulan harga yang signifikan. Eksportir dari China disebut mendapat insentif sampai 15 persen dari pemerintahnya, meskipun hal itu masih akan diverifikasi lebih lanjut.
“Kalau memang itu benar, kita harus ambil langkah supaya barang kita bisa lebih bersaing di pasar dalam negeri,” ujar Purbaya.
Ketika ditanya tentang kemungkinan pengenaan pajak pada produk impor di platform online, dia menyatakan masih membuka berbagai opsi kebijakan.
“Saya tampung dulu usulnya, nanti kita pikirkan,” ujarnya.
Ikuti berita terkini dari BINDO di
YouTube, dan Dailymotion
