Connect with us

Ekonomi

CCEP Reaktivasi 12 Bank Sampah Untuk Dorong Ekonomi Sirkular

Published

on

Ilustrasi Program Bank Sampah CCEP Indonesia [radarsuara]

Jakarta, Bindo.id – Coca-Cola Europacific Partners (CCEP) mereaktivasi 12 bank sampah.

CCEP memberi bantuan peralatan dan infrastruktur drmi mendorong geliat ekonomi sirkular di Kelurahan Cipinang Melayu.

Direktur Public Affairs, Communications, and Sustainability CCEP Indonesia Lucia Karina menuturkan pendampingan bank sampah yang dilakukan CCEP Indonesia di Kelurahan Cipinang Melayu sudah berlangsung sejak awal tahun 2025.

“Program ini merupakan bagian dari implementasi strategi keberlanjutan CCEP, ”This is Forward”, yang mendorong penguatan ekonomi sirkular melalui pengelolaan kemasan dan pemberdayaan masyarakat,” ujar Lucia saat acara Peringati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN).

Hal itu disampaikannya melalui keterangan resmi, Jumat (13/2/2026).

Dirinya menuturkan yang membedakan program ini dari pendampingan bank sampah pada umumnya yakni penekanan pada pengembangan kapabilitas pengurus.

Selain memberi dukungan peralatan dan infrastruktur, CCEP Indonesia mengadakan 6 sesi pelatihan. Keenam pelatihan tersebut yakni manajemen operasional, digitalisasi pencatatan dan keuangan, teknik pengolahan sampah organik dan daur ulang, pembuatan produk bernilai jual dari material sampah, serta pemasaran dan pengemasan produk.

“Tujuannya adalah agar bank sampah tidak hanya berfungsi sebagai titik kumpul, tetapi juga mampu menjadi unit usaha sosial yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat,” tuturnya.

”Kami meyakini bahwa pengelolaan sampah tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi antara sektor swasta, pemerintah, dan masyarakat,” ujar Lucia.

Kata Lucia, bank sampah bisa berkembang dari sekadar titik kumpul jadi pusat ekonomi sirkular di lingkungan masyarakat saat komunitas didukung oleh pendampingan yang konsisten.

Dari sisi infrastruktur, program ini tersedia perangkat digital untuk pencatatan, timbangan digital, drop box PET, fasilitas pengolahan sampah organik termasuk maggot tower terintegrasi budidaya ikan lele, komposter, dan mesin untuk pelatihan daur ulang tutup botol plastik.

Baca Juga  Raih 579 Poin, Kaltim Jadi Juara Umum MTQ Nasional XXX

Selama 1 tahun pelaksanaan, program ini mendata berbagai capaian yang signifikan. Ada lebih dari 100 nasabah aktif baru bergabung dari 12 BSU.

“Total sampah yang berhasil dikelola mencapai lebih dari 80 ton, yang terdiri dari kertas, plastik, logam, organik, kaca, dan juga 1,7 ton sampah organik dalam kurun waktu empat bulan terakhir,” ujarnya.

Pengurus bank sampah juga mulai memproduksi barang yang bernilai jual seperti papan plastik daur ulang, lilin aromaterapi, pupuk cair, serta produk maggot dan kasgot yang bisa membuat pendapatan komunitas menjadi meningkat.

Saat ini semua 12 BSU sudah menerapkan sistem pencatatan digital pada operasi hariannya.

Dalam rangka menjaga keberlangsungan program usai masa pendampingan selesai, sudah terbentuk Paguyuban Garpu Basah (Gerakan Terpadu Bank Sampah Cipinang Melayu) sebagai wadah koordinasi antar 12 bank sampah yang dikelola langsung oleh pengurus serta masyarakat setempat.

“Kami berharap inisiatif ini dapat menjadi model kolaborasi yang berkelanjutan dan menginspirasi lebih banyak wilayah untuk mengembangkan sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas,” ujar Karina.

Dari Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), timbulan sampah nasional di tahun 2025 hingga 21,65 juta ton. Sampah tersebut baru terkelola sekitar 35 persen.

Di saat yang sama, Indonesia punya hampir 17.000 unit bank sampah, walaupun tak semuanya kondisinya aktif. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan utama pengelolaan sampah berbasis komunitas tak hanya tentang jumlah infrastruktur, namun juga tentang kapabilitas pengelolanya.

Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup RI, Rasio Ridho Sani, menuturkan pengelolaan sampah berbasis komunitas menjadi bagian penting untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir. Selain itu juga mendorong partisipasi aktif masyarakat pada ekonomi sirkular.

Baca Juga  12 Layanan Bantuan Untuk Masyarakat Telah Dibuka Polres Jakarta Pusat

“Inisiatif berbasis komunitas seperti bank sampah ini sangat penting untuk menangani persoalan sampah di Indonesia. Bank sampah memainkan peranan yang sangat penting dalam membantu menyelesaikan persoalan di tingkat paling bawah,” ujar Rasio.

Ikuti berita terkini dari BINDO di
YouTube, dan Dailymotion