Inspirasi
Energi Matahari, Air AC, dan Sampah Disulap Jadi Sumber Daya Di Duren Sawit Jakarta Timur
Jakarta, Bindo.id – Ketua RT 08/RW 04 Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur, Taufiq Supriadi Yusuf telah mengembangkan inovasi untuk menghemat pengeluaran serta menjaga lingkungan di kawasan permukiman padat penduduk.
Dirinya menggunakan energi matahari dengan panel surya yang dipasang di atap rumahnya untuk memasok listrik ke beberapa fasilitas umum.
Inovasi ini berhasil menekan tagihan listrik lingkungan yang awalnya Rp 3 juta kini menjadi Rp 900.000 per bulan.
Tidak hanya energi, Taufiq juga memakai air kondensasi dari pendingin ruangan atau AC yang biasanya langsung dibuang ke saluran air.
Air ini ditampung untuk menyiram tanaman, mengisi kolam ikan, maupun membantu mengisi lubang resapan biopori.
“Semua air, energi, kemudian teknologi tepat guna harus diterapkan. Sumber daya enggak boleh ada yang dibuang,” tutur Taufiq di rumahnya, Rabu (14/10/2026).
Berbagai inovasi itu merupakan konsep lingkungan berkelanjutan yang dikembangkan Taufiq.
Dirinya mengintegrasikan pengelolaan sampah rumah tangga dengan budidaya ikan lele, ayam petelur, dan tanaman produktif.
Dengan konsep tersebut, sampah diolah kembali jadi sumber daya yang bermanfaat, sedangkan hasil budidaya bisa bernilai ekonomi untuk warga.
Taufiq menyebut keterbatasan lahan di permukiman padat tak jadi alasan untuk berhenti berinovasi selama sumber daya yang tersedia masih dapat digunakan untuk kepentingan bersama.
Hemat listrik berkat panel surya
Sejak Maret 2026, Panel surya dengan kapasitas 10.000 watt atau 10 kilowatt terpasang di atap rumah Taufiq. Listrik yang dihasilkan dipakai untuk menunjang beberapa fasilitas umum, seperti penerangan gang hingga pos kamling modern.
“Jadi pemasangan panel surya ini saya taruh di atap rumah. Saya taruh (alirkan listrik) ke gang-gang, saya taruh pos RT, saya dorong ke belakang dibagi ke seluruh gang (rumah warga),” ujar Taufiq.
Sistem panel surya ini terhubung dengan jaringan listrik PLN lewat mekanisme on grid. Dengan menggunakan sistem ini, energi matahari digunakan pada siang hari, sedangkan kebutuhan listrik saat malam hari tetap dipasok PLN.
Pemakaian panel surya tersebut berdampak pada turunnya tagihan listrik lingkungan yang harus dibayarkan setiap bulan.
“Alhamdulillah dari Rp 3 juta sekarang jadi Rp 900.000 per bulan,” tutur Taufiq.
Pengeluaran listrik lingkungan setiap bulannya berkurang sekitar Rp 2,1 juta. Selain untuk penerangan, listrik dari panel surya juga menyuplai aerator kolam lele, pompa sirkulasi air, maupun kulkas freezer milik warga.
Kata Taufiq, pemasangan panel surya sekitar Rp 200 juta dan diperoleh dari dukungan pihak swasta dalam skema tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR).
Demi menjaga kinerjanya, permukaan panel dibersihkan setiap 3 bulan supaya debu dan kotoran tak mengganggu penyerapan sinar matahari.
Air buangan AC digunakan saat hujan jarang turun
Selain menghemat listrik, Taufiq juga mengembangkan sistem penampungan air kondensasi AC untuk alternatif sumber air.
Air tersebut digunakan untuk kebutuhan lingkungan, terutama saat hujan jarang turun.
Awalnya gagasan tersebut dari rencana pemanenan air hujan atau rainwater harvesting. Akan tetapi, karena hujan tak kunjung turun, dia menyesuaikan sistem ini dengan menggunakan air kondensasi dari AC.
“Awalnya teknologinya digunakan sebagai rain water harvesting yaitu penampungan air hujan. Karena tidak mendapatkan hujan jadi pakai air AC untuk ditampung ke tong,” ujar Taufiq.
Ia mengatakan 1 unit AC dengan suhu 21 derajat Celsius bisa menghasilkan sekitar 15 liter air selama 4 jam penggunaan.
Jika dipakai selama 12 jam, jumlah air yang dihasilkan secara teoritis sekitar 45 liter, dengan asumsi laju kondensasi tetap sama.
“Makanya satu unit AC aja kalau suhunya 21 derajat, empat jam itu dapat 15 liter air. Belum lagi kalau satu rumah pasang banyak AC. Jadi sayang kalau air terbuang,” ujar Taufiq.
Selanjutnya, air yang terkumpul dipakai untuk menyiram tanaman, mengisi kolam ikan, serta membantu resapan lewat lubang biopori.
Taufiq juga mengatur aliran air memakai sistem perpipaan supaya air bisa dikumpulkan dan dimanfaatkan sesuai kebutuhan.
“Kalau buat tanaman atau buat nyiram apa, ngisi kolam, buat ngisi lubang resapan biopori, aman-aman saja. Kecuali kalau ingin minum, bawa ke laboratorium dulu,” tutur Taufiq.
Ia menyebut air kondensasi AC belum dipakai untuk konsumsi sebab kualitasnya perlu diperiksa terlebih dulu lewat pengujian laboratorium.
Warga mulai melakukan secara mandiri pemanfaatan air ini. Mereka mengambil air dari tempat penampungan untuk menyiramkannya ke tanaman di sekitar rumah.
“Mereka (warga) saya enggak suruh. Nanti ada pengurus, begitu saya buka (rumah) begini, langsung ambil galon yang di luar buat nyiram tanaman. Sudah jalan sendiri,” ujar Taufiq.
Dia berharap kedepannya penampungan air bisa dikembangkan dengan tangki bersama atau ground tank supaya pengelolaan dan distribusi air di lingkungan tersebut bisa lebih teratur.
Sampah dapur diolah jadi pakan dan sumber pangan
Upaya Taufiq mengelola lingkungan tak berhenti pada pemanfaatan energi dan air. Dirinya juga menggunakan konsep closed loop system, yaitu sistem yang menghubungkan berbagai kegiatan agar sisa dari satu proses bisa dipakai kembali untuk proses lainnya
“Sampah itu bisa kita olah dan hasilnya bisa dirasakan terus berputar dalam kehidupan,” ujar Taufiq.
Pada sistem tersebut, sampah organik diolah jadi kompos, pupuk cair, eco enzyme, maupun pakan maggot untuk ayam petelur dan ikan lele. Sampah anorganik dikumpulkan lewat bank sampah.
Pengolahan sampah ini juga mendukung penghijauan di lingkungan permukiman. Ada 817 tanaman produktif tersebar di 3 gang.
Taufiq juga ikut melibatkan warga untuk pengelolaan lingkungan dan budidaya ikan lele. Kegiatan budidaya tersebuy dikembangkan jadi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dengan 20 persen hasilnya dialokasikan untuk kas kelompok tani.
“Program dibuat oleh warga kan untuk warga. Jadi saya menginisiasi, warga bisa jalan, dapat hasil dan berbagi, enggak boleh pelit,” tutur Taufiq.
Berbagai inovasi ini menarik perhatian pengunjung dari dalam dan luar negeri yang ingin mempelajari tentang pengelolaan lingkungan di kawasan permukiman padat penduduk.
Taufiq mengatakan perubahan lingkungan bisa dimulai dari inisiatif sederhana yang dilakukan secara konsisten serta melibatkan masyarakat.
Menurutnya, pemimpin perlu berani memulai supaya sebuah gagasan dapat berkembang serta bermanfaat untum orang banyak.
“Pemimpin yang hebat bukan yang paling pintar, tetapi yang berani memulai,” tutur Taufiq.
Ikuti berita terkini dari BINDO di
YouTube, dan Dailymotion
