Connect with us

Transportasi

Sepuluh Tahun Mengaspal Layani Jakarta, 120 Armada BRT DAMRI Purna Tugas dengan Kondisi Prima

Published

on

Foto istimewa/DAMRI

Jakarta (Bindo.id) – Setelah sepuluh tahun setia mengaspal di jalanan ibu kota, sebanyak 120 unit bus biru BRT DAMRI resmi menuntaskan masa pengabdiannya melayani masyarakat Jakarta pada tahun 2026.

Sejak pertama kali beroperasi pada 2016, armada BRT Hino DAMRI ini telah menjadi bagian dari perjalanan harian warga — mengantar berangkat kerja di pagi hari, menemani pulang saat senja, hingga menjadi saksi mobilitas dan dinamika kota yang tak pernah berhenti.

Meski telah memasuki masa purna tugas, kondisi bus tetap terjaga dengan baik. Hal ini tidak terlepas dari komitmen DAMRI dalam menjaga kualitas layanan melalui pemeliharaan ketat dan perawatan rutin selama masa operasional bersama Transjakarta.

Selain tersebar di koridor layanan utama Transjakarta, sebagian armada saat ini telah ditempatkan di sejumlah pool operasional DAMRI di berbagai wilayah seperti Solo, Sukabumi, Bogor, Depok, dan Semarang. Penempatan ini merupakan bagian dari proses penataan dan pemetaan aset pasca operasional, guna memastikan kesiapan armada tetap terjaga dalam mendukung berbagai kebutuhan layanan maupun skema pengelolaan lanjutan perusahaan.

“Bagi kami, armada ini bukan sekadar kendaraan, tetapi bagian dari perjalanan pelayanan publik DAMRI untuk masyarakat. Kami memastikan setiap unit dirawat dengan standar terbaik hingga akhir masa tugasnya,” ungkap _Head of Corporate Communication_ DAMRI, P. Septian Adri S.

Menutup perjalanan satu dekade ini, DAMRI menyampaikan apresiasi kepada seluruh pelanggan, mitra, dan pramudi yang telah menjadi bagian dari kisah pengabdian bus biru di Jakarta.

Dengan berakhirnya masa pelayanan di Jakarta, diharapkan armada ini tetap dapat memberikan nilai manfaat baru melalui berbagai peluang kolaborasi dan pemanfaatan lanjutan yang produktif.(ahmad)

Ikuti berita terkini dari BINDO di
YouTube, dan Dailymotion

Baca Juga  DAMRI Buka Rute Langsung Pontianak-Palangkaraya, Menjelajah Jantung Kalimantan Tanpa Transit