Transportasi
Menjangkau dari Desa, Menggerakkan Ekonomi: DAMRI Hadirkan Dampak Nyata Lewat Angkutan Perintis

JAKARTA – Sebagai bagian dari peran DAMRI dalam menjaga konektivitas nasional, layanan angkutan perintis terus menjadi penghubung utama bagi masyarakat di wilayah tertinggal, terpencil, terluar, dan perbatasan (3TP). Di tengah tantangan aksesibilitas dan keterbatasan infrastruktur, DAMRI memastikan mobilitas dasar masyarakat tetap berjalan.
Hingga 2024, Indonesia masih memiliki lebih dari 10.000 desa tertinggal dan sangat tertinggal, dengan konsentrasi terbesar di kawasan timur Indonesia dan pulau-pulau kecil. Keterbatasan akses transportasi di wilayah tersebut berdampak langsung pada biaya logistik yang tinggi, ketimpangan harga kebutuhan pokok, serta terbatasnya akses ekonomi dan layanan dasar.
Melalui layanan angkutan perintis, DAMRI membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat desa untuk terhubung langsung ke pusat aktivitas ekonomi dan layanan publik. Dalam praktiknya, satu perjalanan angkutan perintis rata-rata dimanfaatkan oleh sekitar 10 petani, masing-masing membawa hingga 50 kilogram hasil panen.
Dengan selisih harga komoditas antara desa dan kota yang dapat mencapai Rp10.000 per kilogram, setiap petani berpotensi memperoleh tambahan pendapatan hingga Rp500.000. Setelah dikurangi biaya transportasi yang terjangkau menggunakan angkutan perintis DAMRI, manfaat bersih yang diterima petani dapat mencapai sekitar Rp470.000 per orang. Artinya, dalam satu kali perjalanan, total manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat dapat menembus hampir Rp5 juta.
Tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi, layanan angkutan perintis DAMRI juga berperan penting dalam membuka akses layanan kesehatan. Rata-rata tiga warga dalam setiap perjalanan memanfaatkan layanan ini untuk menuju fasilitas kesehatan di wilayah perkotaan. Jika menggunakan kendaraan pribadi atau sewaan, biaya perjalanan dapat mencapai Rp1,5 juta. Dengan DAMRI, masyarakat dapat menghemat hingga Rp1,47 juta, menjadikan akses kesehatan lebih terjangkau dan berkelanjutan.
“Bagi DAMRI, angkutan perintis bukan sekadar layanan transportasi. Ini adalah upaya nyata untuk memastikan masyarakat desa tetap terhubung, dapat menjual hasil panen dengan lebih adil, serta mengakses layanan kesehatan tanpa terbebani biaya tinggi,” ujar _Head of Corporate Communication_ DAMRI, P. Septian Adri S.
“Peran ini sejalan dengan semangat pembangunan dari desa dan dari bawah, di mana konektivitas menjadi fondasi penting bagi pemerataan ekonomi dan pengurangan kesenjangan antarwilayah.” tutup Septian.
Melalui tarif yang terjangkau dan rute yang menjangkau wilayah-wilayah yang belum dilayani moda transportasi komersial, DAMRI menghadirkan dampak ganda, dengan meningkatkan pendapatan masyarakat desa sekaligus memastikan akses terhadap layanan dasar tetap tersedia.
Ke depan, DAMRI akan terus memperkuat peran sebagai tulang punggung transportasi darat nasional yang terintegrasi, menghadirkan konektivitas yang inklusif, dan memastikan manfaat pembangunan dapat dirasakan hingga ke wilayah terluar Indonesia.(ahmad)
Ikuti berita terkini dari BINDO di
YouTube, dan Dailymotion
