Connect with us

Kesehatan

Radioterapi CT-LINAC Hadir Di MRCCC Siloam Semanggi Untuk Atasi Kanker

Published

on

Peluncuran teknologi Integrated CT-LINAC di MRCCC Siloam Semanggi [suaramerdeka]

Jakarta, Bindo.id – Adopsi teknologi medis mutakhir seiring layanan kanker di Indonesia terus berkembang.

Lewat kolaborasi strategis Indonesia–Tiongkok, RS khusus kanker MRCCC Siloam Semanggi bekerja sama dengan United Imaging Healthcare mengenalkan teknologi Integrated CT-LINAC. Teknologi tersebut merupakan sistem radioterapi presisi generasi terbaru.

Hadirnya teknologi ini, MRCCC Siloam Semanggi jadi rumah sakit pertama di Asia Tenggara yang punya dan mengoperasikan Integrated CT-LINAC.

CEO Siloam International Hospitals Caroline Riady menuturkan kolaborasi dengan United Imaging merupakan komitmen kuat Siloam untuk mendukung Kementerian Kesehatan RI dalam memperkuat layanan kanker serta meningkatkan kualitas pengobatan.

“Melalui adopsi teknologi radioterapi canggih, kami berupaya meningkatkan presisi terapi, penanganan pasien, serta memperluas akses terhadap layanan kanker berkualitas tinggi bagi masyarakat di Indonesia dan Asia Tenggara,” ujarnya saat acara peluncuran teknologi Integrated CT-LINAC di Jakarta (22/1/2026).

Teknologi Integrated CT-LINAC dapat mengintegrasikan pencitraan CT secara real-time dengan sistem terapi radiasi. Dengan teknologi ini, dokter bisa menargetkan jaringan kanker lebih akurat, meminimalkan paparan radiasi di jaringan sehat, dan mempercepat proses layanan.

President of International Business United Imaging Healthcare Group Dr. Jusong Xia, Ph.D, mengatakan dengan penggunaan teknologi ini yang tadinya perawatan radioterapi perlu 4 alat, sekarang hanya butuh satu alat yang digabungkan menjadi satu.

“Teknologi CT-LINAC ini akan menurunkan waktu tunggu perawatan, dari yang tadinya butuh berhari-hari menjadi hanya 20-30 menit,” ujarnya di acara yang sama.

Dokter spesialis radiologi dari MRCCC Siloam Hospital Semanggi dr.Denny Handoyo Kirana Sp.OnkRad (K), menuturkan radioterapi sebagai modalitas pengobatan kanker yang sangat penting. 

“Teknologi ini juga membuat terapi menjadi lebih akurat dan presisi, selain juga cost-effective,” tuturnya.

Mesin ini tak hanya mengurangi jumlah sesi radiasi yang dibutuhkan pasien, namun juga meminimalisir risiko efek samping. Ini akan memudahkan pasien, sebab tak perlu bolak-balik ke rumah sakit berulang kali.

“Melalui pencitraan CT harian dan radioterapi adaptif, setiap sesi terapi dapat disesuaikan dengan anatomi dan kondisi pasien, sehingga meningkatkan presisi sekaligus mengurangi paparan radiasi yang tidak perlu pada jaringan sehat,” ujar dr.Denny.

Inovasi kanker jadi semakin penting dan relevan di tengah kasus kanker di Indonesia yang meningkat.

Data dari Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) pada 2022, kanker payudara menjadi kanker terbanyak di Indonesia yakni 66.271 kasus baru atau sekitar 16,2 persen dari semua kasus kanker.

Pada perempuan Indonesia, penyakit ini juga mengakibatkan 22.598 kematian, dan prevalensi hingga 209.748 kasus dalam 5 tahun.

Ikuti berita terkini dari BINDO di
YouTube, dan Dailymotion

Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *