Connect with us

News

Pengacara Kamaruddin Simanjuntak Meninggal Dunia, Napas Berdahak Hingga Saturasi Oksigen Menurun

Published

on

Pengacara Kamaruddin Simanjuntak meninggal dunia [facebook]

Jakarta, Bindo.id – Setelah menjalani perawatan di rumah sakit, pengacara Kamaruddin Simanjuntak meninggal dunia pada Senin (19/10/2026) dini hari.

Sang istri bernama Joanita Meroline Wenji, mengaku suaminya sudah berjuang melawan penyakit selama bertahun-tahun sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir.

Joanita mengatakan Kamaruddin sudah menjalani cuci darah secara rutin sekitar 2 tahun.

Kondisi kesehatannya pun mulai sering menurun bahkan harus masuk-keluar rumah sakit sejak Februari 2026.

Menurut Joanita, kondisi kesehatan suaminya juga dipengaruhi kelelahan sebab kesibukannya sebagai pengacara. Kamaruddin disebut sering bekerja tanpa mengenal hari libur untuk mendampingi dan membela kliennya.

“Sudah dua tahun mulai ada cuci darah. Karena terlalu lelah, hampir enggak istirahat dia. Kalau membela klien itu benar-benar hari Minggu pun dia kerja,” tutur Joanita di Rumah Duka RS Ukrida, Jakarta Barat, Senin (19/10/2026).

Meskipun kondisi kesehatan suaminya sempat memburuk, Joanita memilih untuk tak banyak menceritakan penyakit yang diderita Kamaruddin ke publik. Dirinya ingin membagikan kabar saat kondisi suaminya sudah kembali membaik.

Berharap suami bertahan melewati momen penting

Joanita menyebut Kamaruddin mulai sering masuk-keluar rumah sakit sejak Februari 2026. Kondisinya pun sempat sangat lemah bahkan harus memakai kursi roda usai pulang dari kampus.

Di tengah kondisi itu, Joanita terus berharap agar suaminya dapat bertahan dan kembali pulih.

Dia juga berdoa agar Kamaruddin diberikan kesempatan untuk melewati sejumlah momen penting di kehidupan mereka. Joanita mengatakan sempat memohon agar suaminya dapat bertahan hingga hari jadi pernikahan mereka tanggal 18 Maret 2026.

Dia pun kembali berharap Kamaruddin dapat melewati perayaan Paskah pada April dan ulang tahunnya tanggal 21 Mei 2026. Harapan itu pun terwujud.

Joanita mengatakan kondisi Kamaruddin membaik selama sekitar 2 bulan, yaitu pada Mei hingga Juni 2026.

Akan tetapi, kondisi itu tak bertahan lama. Akhir Juli 2026, Kamaruddin harus kembali menjalani perawatan di rumah sakit. Joanita pun berharap suaminya dapat pulih sebagai hadiah ulang tahunnya pada Agustus 2026.

“Terus saya bilang, Tuhan, saya minta untuk hadiah ulang tahun saya di bulan Agustus, dia sembuh, saya bilang begitu,” ujar Joanita.

Harapan tersebut kembali diuji sebab tanggal 25 Agustus 2026, Kamaruddin harus kembali dirawat di rumah sakit. Sehingga Joanita merayakan ulang tahunnya di rumah sakit bersama dengan sang suami.

“Jadi, ternyata tanggal 25 (Agustus) masuk rumah sakit, jadi saya ulang tahun di rumah sakit,” tuturnya.

Kamaruddin sempat kembali ke rumah sekitar 2 minggu, usai menjalani perawatan hingga sekitar pekan kedua September.

Sebelum meninggal dunia, kondisinya menurun

Pada Sabtu (17/10/2026), kondisi Kamaruddin kembali memburuk. Dirinya harus dibawa ke instalasi gawat darurat (IGD) meski sebelumnya tak menunjukkan keluhan yang berarti.

Kata Joanita, suaminya bahkan tampak segar sehingga keluarga tak menyangka kondisinya akan kembali memburuk.

“Dia kadang kalau ditanya sakit enggak, dia jawab enggak. Jadi kita enggak tahu, mukanya juga cerah, segar,” ujar Joanita.

Setelah menjalani pemeriksaan di IGD, pada Minggu (18/10/2026) sekitar pukul 01.00 WIB Kamaruddin dipindahkan ke kamar rawat inap

Saat di ruang perawatan, Joanita mulai menyadari perubahan kondisi suaminya. Dia mendengar suara napas Kamaruddin seperti berdahak atau mengorok.

Joanita juga sempat meminta suaminya batuk supaya gangguan itu dapat dikeluarkan. Akan tetapi, Kamaruddin mengaku tak sanggup melakukannya.

Joanita kemudian memanggil perawat dan meminta agar saturasi oksigen suaminya diperiksa sebab khawatir kondinya. Sejak saat itu, kondisi Kamaruddin terus mengalami penurunan. Tim medis telah berupaya memberi pertolongan, namun nyawanya tak tertolong.

“Mulai dari situ saturasinya sudah turun, turun, turun. Akhirnya dipompa sampai pukul 02.47 WIB, dia sudah enggak ada,” ujar Joanita.

Joanita mengatakan selain menjalani cuci darah secara rutin, Kamaruddin juga terkena infeksi paru-paru saat perawatan terakhirnya.

“Dia ada cuci darah, dan untuk terakhir ini ada infeksi paru,” ujarnya.

Di rumah duka RS Ukrida, Jakarta Barat, keluarga almarhum terlihat diselimuti duka mendalam dan tampak karangan bunga, termasuk dari Peradi, berjejer di lokasi.

Ikuti berita terkini dari BINDO di
YouTube, dan Dailymotion

Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *